Bis, atau bus menurut ejaan resmi (tapi jarang orang mengucapkan “bus”, lebih sering “bes”), memang kendaraan rakyat. Maksud saya, dikenal oleh semua orang bahkan oleh mereka yang tak pernah menggunakannya — kecuali ketika di bandara dan luar negeri. Maka wajar saja jika sesuatu yang popular jadi merek. Tapi untuk kantong plastik hitam, yang konon tak cocok untuk pembungkus makanan ini, apakah  mereknya diingat oleh konsumen? Konsumen plastik yang saya maksudkan adalah pemilik warung yang membeli plastik dari toko.

Tagged with:
 

buku pengantar berpacaran muda-mudi

Kepada muda-mudi: Kawinlah kalian kalau sudah ingin. Jangan terlalu membujang — apalagi menghambur-hamburkan nafsu dengan jajan. Itu bukan aturan yang benar. Dengan kawin engkau tidak akan jatuh miskin, bahkan dengan kawin anda mendapat pembantu/pegawai tanpa menggaji.

Itulah yang diajarkan oleh Abdullah Masrur M.H. dalam bukunya Pengantar Berpacaran: Psycologie Muda-mudi. Edisi 1980, terbitan Bintang Pelajar, Surabaya.

Buku ini sudah dicetak offset, tapi halaman dalam dicetak secara buruk di atas kertas koran. Setting tak rapi. Garis potongan paste up tampak berjejak. Beberapa huruf pada tepi kolom terpotong. Sungguh sebuah produk cetakan rakyat.

rugos

Tampaknya setting dengan paragraf justified ini menggunakan teknologi yang saat itu dianggap murah: bukan photo typesetting melainkan mesin tik elektronik berpita plastik.

Orang percetakan kecil menyebutnya “setting IBM” karena menggunakan mesin tik elektronik IBM yang hurufnya bukan berupa piringan (daisy wheel) melainkan bola (golf). Cetak huruf tebal (bold, vet) bukan masalah, tapi untuk cetak huruf miring (kursif, italic), wadooohhhh… tidak bisa.

rugos

Bagaimana dengan teks untuk judul bab yang ukurannya di atas 12 pt? Apa boleh buat, buku ini melakukannya dengan… Rugos!

rugos dan spidol

Duh, Rugos. Perlu posting khusus tampaknya. Rugos adalah merek, konon singkatan “huruf gosok”, bikinan Surabaya. Rugos adalah jawaban Indonesia untuk barang sejenis, yaitu Letraset dan Mecanorma yang merupakan barang impor.

rugos dan spidol

Di tangan yang kurang terampil, dan kurang hirau tipografi, penempelan huruf ini akan menjadi tidak rapi. Tapi misalkan penempelnya terampil, kalau kehabisan huruf dan tanda baca ya tetap saja repot. Maka dalam buku ini tanda titik-titik (ellipsis) dalam judul dibuat dengan… spidol!

Bagaimana jika huruf M habis? Gampang, ambil saja huruf W lalu dibalik, dan jadilah judul bab di halaman 25.

rugos

Kalau stok font Rugos habis? Juga gampang. Ambil saja font face yang lain. Hasilnya: dalam satu buku ada pelbagai jenis font untuk judul bab. Kalaupun saat itu sudah ada template juga percuma karena hurufnya habis.

rugos

Sampulnya? Istimewa! Dicetak di atas kertas HVS, dengan ilustrasi hasil repro gambar cat air dan pena. Sampul sebagus itu tanpa disertai nama pengarang dan penerbit.

Lha tentang isi buku ini, ada di blog induk.

buku petunjuk berpacaran

 

Saya tertawa. Geli sekaligus takjub. Masih ada ilustrasi seperti pada dompet koin ini pada September 2006. Pemiliknya bangga sekali. Dia seorang pekerja sebuah badan PBB di Jakarta, yang berdinas dengan mobil berpelat nomor CD.

Sang pemilik — kita sebut saja Mr Z (bukan Zorro), usia 40-an — berasal dari kota yang sama dengan Batman: Pekalongan, Jawa Tengah. Dia membelinya sembilan tahun lalu di Pasar Kedungwuni, Pekalongan.

Harga dompet plastik bersablon itu Rp 5.000. Tapi harga segitu, sebelum krismon, bukan hanya untuk sebuah dompet bergambar remaja pria berjambul dan pasangannya. Rp 5.000 itu harga borongan untuk dompet, cermin genggam tergores, dan sisir serit bergagang tulang kerbau.

Apa tadi, serit? Itu sisir bergigi rapat, dengan gagang di tengah. Harus rapat agar penyisiran rambut lurus lebih rapi dan… bisa mengangkut kutu.

Pembelian itu, menurut Mr Z via e-mail, “…sudah mampu membuat si mbok penjualnya girang bukan kepalang.”

Sungguh sebuah dompet retro. Ilustrasinya mengingatkan kita pada komik roman tahun 70-an, saat Mr Z belajar cinta monyet sambil makan pisang, nangkring di dahan.

Lihatlah sudut pengambilan gambar: dari samping. Sungguh sebuah profil. Tepatnya, profil remaja (dan bekas remaja) masa lalu.

 

Satwa memang paling sering dijadikan merek. Tapi apa alasan wong Solo ini bikin kantong plastik cap Jerapah? Padahal, terus terang saja, plastiknya tidak bisa diulur supaya panjang seperti leher jerapah. Yang pasti, biarpun jerapah bukan spesies endemik di Indonesia, plastik jerapah itu sangat Indonesia: tahan mengantongi santan. Sebuah label sablonan yang bersahaja namun percaya diri, hurufnya pun tampaknya diset pakai Rugos. Apakah para pembeli peduli pada merek ini, sehingga ketika datang ke toko plastik akan bilang kepadasi penjual, “Minta plastik jerapah…”? Tanyailah kenalan Anda yang orang Solo, atau Sala, atau Surakarta: apakah mereka mengenal plastik jerapah.