jamu burung perkutut

Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja.

Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba.

Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc.

Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara “kung”-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci.

Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi [KBBI: priayi], burungnya para priyagung atawa kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya.

Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun — dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.

 

Apa iya, sebuah merek adalah pencitraan diri pemiliknya? Saya tak tahu. Apa iya, merek juga berarti cerminan produsen dalam mencitrakan konsumennya? Saya tak paham. Apalagi jika menyangkut branding, maka desain kemasan hanya satu hal, karena di luar itu adalah upaya komunikasi pemasaran berikut segala bla-bla-bla yang membingungkan.

Saya tak paham itu semua. Lebih menyenangkan melihat desain kemasan barang-barang itu… Apakah barangnya laku atau tidak, menjadi ikon zaman atau sekadar terselip di lapak penjual sampai penjualnya lupa, saya juga tak begitu paham. Itu urusannya orang pintar, kaum yang sudah cerdik masih cendekia pula.

(Pindahan dari tempat lama)