Mestinya memang bukan. Meskipun bergambar sapi hitam-putih-merah nyatanya tak ada kata “cap sapi”, yang ada hanya “ketjap gurih”.  Ini kecap terbikin oleh keluarga Liem dari Yogyakarta. Saya tak tahu sejak kapan kecap ini ada, karena masih menggunakan ejaan lama “ketjap”, tapi pendaftarannya bertahun 1991 — mungkin daftar ulang?

Saya menemukan botol kecap bergambar sapi ini dari meja makanan dalam resepsi pernikahan Tikabanget, awal Mei ini, di Yogya. Para tetamu dipersilakan menambahkan kecap sendiri pada hidangan yang diambilnya. Si pemilik jasa boga lebih memilih kecap sapi. :)

Tagged with:
 

Dunia pewayangan sering menjadi sumber merek-merek lama untuk produk yang menyasar rakyat kebanyakan. Mungkin karena dunia perlambang dan idola dulu masih terbatas. Pada beberapa jenis produk berupa sachet kertas, nama tokoh pewayangan termasuk favorit. Misalnya vanili cap Hanoman, wènter (pewarna kain) cap Kresno, dan bubuk pemutih cucian cap Kumbo Karno. Nah yang ini adalah tères atau sumba cap Hanoman, bikinan Solo. Masih dijual di pedesaan Wonogiri, Jawa Tengah. Mungkin cocok untukmengganti si kera putih karena warna putih itu paling semanak untuk diwarnai.

Merek lainyang non-wayang untuk tères dan wènter (bukan untuk makanan) misalnya Stoples dan Kalkun.

Tagged with:
 

Saya tak tahu sejak kapan teri  Kanayakan, Bandung, ini mengisi pasar. Desainnya labelnya modern sekaligus retro, menampilkan gaya ibu tahun 70-an. Seolah ini produk  dan merektua yang disukai para nyona rumah di kota. Tentang gaya nyonya Indonesia, kita pernah memilikinya dari ember plastik Pioneer. Ada nyonya berkain berkebaya di sana. Saya ingat, sampai tahun 70-an masih ada wanita pekerja dan nyonya yang kerap berkain kebaya, termasuk budhé saya dan ibu guru saya.

Wadah teri ini saya temukan di sebuah dapur, entah diisi apa, makanya itu tanggal kedaluwarsa sudah terlewat.

Tagged with:
 

Anda tahu burung nuri? Pernah melihatnya atau cuma dengar namanya? Untunglah sekarang ada internet. Tapi jika menyangkut merek, selalu saja muncul tebakan kenapa burung anu, atau binatang apalah, yang jadi merek dagang. Pasti ada sejarahnya. Sayang untuk kasus ini, kerupuk dari Manonjaya, Tasikmalaya, saya tidak tahu kisahnya.

Label ini saya minta dari warung rokok karena kesederhanaanya. Cuma difotokopi. Pembuatan desain sudah dilakukan di komputer, bukan manual seperti kerupuk Irma yang menonjolkan craftmanship :)

Dari mana datangnya label halal? Mmmm sebenarnya ini soal ketulusan dan keyakinan pembuat maupun pembeli. Maaf kalau saya salah. Setahu saya sih halal juga mencakup cara perolehan, penyembelihan, dan seterusnya.

Tagged with: