Apa lagi yang dapat saya ceritakan tentang cokelat Monggo dari Yogya?

Sudah terlalu terkenal, sudah terlalu banyak cerita tentang dia, tapi bagaimanapun dia layak tampil di sini. Malah harus tampil.

Pada awal kemunculan cokelat ini, awal 2000-an, saya sudah memindai bahkan memotret cokelat ini. Foto dan hasil pindaian hilang terfomat, lalu memotret lagi tapi tersela mesin blog rusak dan seterusnya.

Jadi silakan Anda cari sendiri kisah lengkap tentang cokelat Kotagede dengan ramuan Belgia ini. Misalnya dari Kontan, Kompas, dan tentu Zammy Matriphe. Yang terakhir itu sering kerepotan karena hasil giringan mesin pencari membuat orang datang ke blognya, lalu menanyakan harga, cara memesan dan sebagainya.

Ramuan Monggo paling sip adalah dark chocolate 69%. Sayang sebelum saya foto, cokelatnya raib :D Cokelat yang ada dalam artikel ini adalah yang 58%.

Lantas apa salah satu ciri khas Monggo? Kemasan. Menggunakan kertas samson, dengan menambahkan gambar pria berblangkon dan bersurjan membuang bungkus ke keranjang sampah. Di seluruh dunia hanya cokelat Monggo yang punya gaya begitu.

Jika menyangkut cokelat, penasaran saya tetap. Bagaimana dulu orang Jawa dan Indonesia menyebut warna soklat dan cokelat sebelum mengenal kakao?

Sebagai warna, KBBI mengartikan cokelat “warna merah kehitam-hitaman seperti sawo matang“. Tak ada padanan dalam lema (entri) itu.

© Foto Valentine’s: Cokelat Monggo

Tagged with:
 

Merek kecap ini cap Bulan, terbikin oleh Usaha Jaya, Palembang. Baik merek maupun nama kumpeninya terkesan generik, tapi yang jelas “usaha jaya” mencerminkan sebuah tekad dan optimisme. Visioner, begitulah.

Lantas apanya lagi yang menarik? Umumnya perusahan kecap hanya membedakan warna untuk kecap asin dan kecap manis. Yang ini membedakannya dari sisi bentuk labelnya sekalian. Meskipun begitu saya tidak tahu ada berapa varian produk Usaha Jaya, karena untuk yang asin namanya “kecap atom asin”.

Apa? Atom? Ada suatu masa, tahun 50-an sampai 60-an ketika kata “atom” sangat popular. Ada kacang atom sampai mainan dan penggaris plastik yang disebut berbahan “atom”. Mungkin sama popularnya dengan kata “apollo” pada akhir 60-an sampai awal 70-an karena misi NASA ke bulan dengan sekian Apollo-nya.

Tagged with:
 

Kopi macam ini menarik karena mereknya adalah nama si toko. Soal jenis kopi, biasanya konsumen bebas memilih. Penamaan tokonya pun menarik: Ujung. Ini seperti Warung Pojok, Toko Pojok (di Salatiga ada), Toko Perempatan, dan lainnya. Tapi tentang toko ini dan kopinya, saya tak banyak tahu. Pasti Ina Purple dan Rara lebih tahu. Begitu pula terlebih Aan Mansyur. Yang jelas, kemasannya sederhana namun penuh kepercayaan diri: “kopi tulen”. :) Harapan saya sih dulu ketika Orde Baru masih berkuasa, aksra Cina pada bungkus kopi itu selalu ada. Maklum rezim satu itu aneh.

Tagged with:
 

Barangkali begitulah penulisan merek kecap Kebumen ini sebelum pemberlakuan ejaan yang disempurnakan pada 17 Agustus 1972: ketjap tjap Kentjana. Saya tak tahu di Kebumen ada berapa merek kecap, tetapi kenalan yang berasal dari sana selalu membanggakan kecap ini.

Desain kemasan ini menggunakan warna utama yang kuat, mirip gaya partai (eh, Partai Rastafarian?), dengan logotype Kentjana yang kuno dan memberi kesan buatan sendiri, bukan mengambil dari paket font. Tutup botolnya penuh percaya diri mengklaim “kecap enak”. Sederhana seperti umumnya kecap. Adapun kata Indonesia untuk mempertegas bahwa Kebumen, Jawa Tengah, ada di Indonesia. Memangnya di luar Indonesia ada Kebumen juga?