Jempol Pedas

2 March 2007 @ 19:51:15

sambel asli cap jempol

Apa sih yang disebut sebagai “sambel asli”? Jawabannya tak cukup dengan “bukan sambel palsu”. Mungkin semacam ini: sambal (sambel) yang terbikin dari cabe (cabai) asli, bukan cabe lilin apalagi cabe plastik.

Jika tingkat kepedasan bisa dinilai dengan bintang maka sambal ini meraih tujuh bintang. Tapi belum jelas, tujuh itu dari skala berapa.

Jika penilaiannya menggunakan lambang cabe, maka sambal ini mengantongi 12 cabe. Semoga saja skalanya bukan satu sampai 25 cabe, karena sebagai sambal 12 cabe produk ini sudah pedas. Bagaimana dengan peraih 25 cabe? Lidah siapa yang tahan mengujinya?

Tentang cap jempol, ah entahlah. Begitu banyak produk yang memakai jempol untuk merek. Sederhana, cocok dengan persepsi khalayak bahwa jempol adalah simbol kebagusan.

Satu Jempol tak Cukup

1 March 2007 @ 16:34:48

silet cap 2 jempol

Silet ini sangat yakin bahwa ketajamannya memang kelas jempolan. Bahkan dua jempol!

Sungguh merek yang sangat percaya diri, memakai bahasa Indonesia, didistribusikan oleh PT Enseval Putra Megatrading. Dalam kemasan paket tak disebutkan siapa produsennya. Tapi dalam bungkus silet tertulis “Dibuat oleh: ASR Co., USA”.

silet cap 2 jempol
Silet 2 Jempol ini saya peroleh Desember 2006 di Pasar Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kios penjualnya ada di seberang kedai swike enak itu. Di pasar swalayan Jakarta, setahu saya, silet ajaib ini tidak tersedia.

Gaul-menggauli bersama Keripik Singkong

19 December 2006 @ 20:28:43

snack gaul keren beken

Ini produk rumah tangga, bagian dari ekonomi rakyat, yang didistribusikan melalui warung rokok. Harganya Rp 1.000 per bungkus. Rasa? Saya tak mencobanya. Karena tak mencicipi maka bolehlah saya disebut kurang gaul.

Lha iyalah, namanya kan “snack gaul”. Cap Dua Jempol pula. Jadi, konsumen penganan ini adalah orang yang well informed, fashionable, stylish, updated, trendy, sociable — pokoknya sesuai makna baru “gaul” sejak pertengan 90-an — sehingga layak dapat two thumbs up.

Dari segi desain, label penganan ini terkesan seadanya. Si produsen sadar, orang gaul sejati tak butuh terlalu banyak gaya luar, karena kalau terlalu meriah akan membingungkan.

Ketika komputer kian merakyat, urusan desain menjadi lebih demokratis. Setiap orang bisa dan boleh menjadi perancang sekaligus pencetak. Dengan mesin fotokopi pun jadi.

Namanya juga gaul kan? Selalu memanfaatkan perkembangan teknologi.

snack gaul keren beken

Djenang Soempah Pemoeda

16 September 2005 @ 0:02:53

jenang ayu jempolan bu wignyo klatenAyu. Cantik. Tak hanya berlaku untuk wajah, tapi juga barang. Di pasar-pasar Jawa Tengah, sudah biasa jika mbok-mbok penjual menawarkan dagangannya penuh rayuan, “Ini lho den, ayu-ayu…”. Yang ayu itu bisa buah, penganan sampai ikan.

Teman saya, namanya Eko Waryono, seorang pecinta motor kuno, memberi jempol untuk sebuah kedai hidangan laut [seafood, gitu] entah di mana, “Bos, di sono tuh kepitingnya cakep-cakep, udangnya juga, padahal kagak pake gincu.” Eko bukan pencumbu ikan, secakep apapun ikan itu. Dia penyantap ikan dan hasil laut lainnya. Meski setiap orang dia panggil “bos”, ikan yang dia puji itu tak dia sapa sebagai “bos”.

Bagaimana dengan jenang bikinan Nyonya Y.M. Wignyowikarno asal Wedi, Klaten, Jawa Tengah? Jenangnya tergolong enak, meski yah berminyak. Lantas siapa yang ayu: jenang atau pembuatnya?

jenang ayu bu wignyo Sebagai dagangan, sudah selayaknya produsen menyebutnya ayu. Apalagi jenang niten ini punya paten, terdaftar di Departemen Kesehatan pula. Kurang apa coba?

Lha tentang Budhe Wignyo, pastilah beliau dapat menjelaskan ayunya sebuah bisnis keluarga: pasang-surut harus dihadapi dengan tabah, sarèh, aja dumèh. Bayangkan, terkenal sejak 1928!

Bisa jadi anggota Jong Java yang berangkat ke Kongres Pemuda di Batavia, untuk menghasilkan Sumpah Pemuda itu, berbekal jenang Ayu untuk pendongkrak stamina selama perjalanan. Belum jelas, apakah saat itu Budhe Wignyo sudah ada.

Lantas? Nah ini yang dari tadi Anda tunggu: Bu Wignyo itu ayu. Mandiri, serius, penuh percaya diri. Lihat saja fotonya: berkebaya, mengacungkan jempol. Sebuah pose berani untuk wanita Jawa tradisional. Ayu tenan.

Thumb Up! [Kriuk! Crisss!]

13 September 2005 @ 0:06:19

Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus.

Kalau krisis energinya sudah amat menyedihkan, sehingga listrik menjadi amat sangat mahal, makin banyak saja kartu nama teman yang berganti kantor: “Titi Pelitahati, marketing manager, CV Semprong Kinclong Jaya”.

Semprong mudah pecah, karena kualitasnya memang kelas rakyat. Tapi tenanglah, ada warung yang menyediakannya. Meski tanpa standar industri, dan Anda cukup menggambarkan ukuran teplok, si penjual dapat memilihkan semprong yang diameternya pas dengan dudukan pada teplok.

Semprong yang mudah pecah mempermudah pemain jathilan untuk mendapatkan bahan keremusan saat kesurupan. Dalam keadaan trance mereka bisa mengeremus beling. “Kriuk! Crisss!” Lalu dilepeh “Buehhhh!” Tapi ketika semprong kian langka, pemain jathilan memanfaatkan pecahan lampu tabung [neon].

Esok ketika krisis energi kian parah, sehingga banyak rumah tangga akan berteplok, pemain jathilan akan mendapatkan jatah lamanya: semprong. Cap Jempol, dengan “kwalitet” terjamin, artinya pecahannya memang crispy.

Adakah dari Anda yang ingat cara membersihkan semprong?

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)