August 6, 2009
Tags: bandrek, ibu jari, jempol, kopi
Begitu banyak merek jempol karena setiap produsen sangat percaya diri bahwa produknya memang jempolan. Nah, peracik kopi dan bandrek ini memilih nama yang sama dengan jempol: ibu jari. Setahu saya jarang yang memakai kata itu. Mungkin produsen lain khawatir jika Ibu Jari dikira nama juragannya.

March 2, 2007

Apa sih yang disebut sebagai “sambel asli”? Jawabannya tak cukup dengan “bukan sambel palsu”. Mungkin semacam ini: sambal (sambel) yang terbikin dari cabe (cabai) asli, bukan cabe lilin apalagi cabe plastik.
Jika tingkat kepedasan bisa dinilai dengan bintang maka sambal ini meraih tujuh bintang. Tapi belum jelas, tujuh itu dari skala berapa.
Jika penilaiannya menggunakan lambang cabe, maka sambal ini mengantongi 12 cabe. Semoga saja skalanya bukan satu sampai 25 cabe, karena sebagai sambal 12 cabe produk ini sudah pedas. Bagaimana dengan peraih 25 cabe? Lidah siapa yang tahan mengujinya?
Tentang cap jempol, ah entahlah. Begitu banyak produk yang memakai jempol untuk merek. Sederhana, cocok dengan persepsi khalayak bahwa jempol adalah simbol kebagusan.
March 1, 2007

Silet ini sangat yakin bahwa ketajamannya memang kelas jempolan. Bahkan dua jempol!
Sungguh merek yang sangat percaya diri, memakai bahasa Indonesia, didistribusikan oleh PT Enseval Putra Megatrading. Dalam kemasan paket tak disebutkan siapa produsennya. Tapi dalam bungkus silet tertulis “Dibuat oleh: ASR Co., USA”.

Silet 2 Jempol ini saya peroleh Desember 2006 di Pasar Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kios penjualnya ada di seberang kedai swike enak itu. Di pasar swalayan Jakarta, setahu saya, silet ajaib ini tidak tersedia.
December 19, 2006

Ini produk rumah tangga, bagian dari ekonomi rakyat, yang didistribusikan melalui warung rokok. Harganya Rp 1.000 per bungkus. Rasa? Saya tak mencobanya. Karena tak mencicipi maka bolehlah saya disebut kurang gaul.
Lha iyalah, namanya kan “snack gaul”. Cap Dua Jempol pula. Jadi, konsumen penganan ini adalah orang yang well informed, fashionable, stylish, updated, trendy, sociable — pokoknya sesuai makna baru “gaul” sejak pertengan 90-an — sehingga layak dapat two thumbs up.
Dari segi desain, label penganan ini terkesan seadanya. Si produsen sadar, orang gaul sejati tak butuh terlalu banyak gaya luar, karena kalau terlalu meriah akan membingungkan.
Ketika komputer kian merakyat, urusan desain menjadi lebih demokratis. Setiap orang bisa dan boleh menjadi perancang sekaligus pencetak. Dengan mesin fotokopi pun jadi.
Namanya juga gaul kan? Selalu memanfaatkan perkembangan teknologi.
