snack gaul keren beken

Ini produk rumah tangga, bagian dari ekonomi rakyat, yang didistribusikan melalui warung rokok. Harganya Rp 1.000 per bungkus. Rasa? Saya tak mencobanya. Karena tak mencicipi maka bolehlah saya disebut kurang gaul.

Lha iyalah, namanya kan “snack gaul”. Cap Dua Jempol pula. Jadi, konsumen penganan ini adalah orang yang well informed, fashionable, stylish, updated, trendy, sociable — pokoknya sesuai makna baru “gaul” sejak pertengan 90-an — sehingga layak dapat two thumbs up.

Dari segi desain, label penganan ini terkesan seadanya. Si produsen sadar, orang gaul sejati tak butuh terlalu banyak gaya luar, karena kalau terlalu meriah akan membingungkan.

Ketika komputer kian merakyat, urusan desain menjadi lebih demokratis. Setiap orang bisa dan boleh menjadi perancang sekaligus pencetak. Dengan mesin fotokopi pun jadi.

Namanya juga gaul kan? Selalu memanfaatkan perkembangan teknologi.

snack gaul keren beken

 

jenang ayu jempolan bu wignyo klatenAyu. Cantik. Tak hanya berlaku untuk wajah, tapi juga barang. Di pasar-pasar Jawa Tengah, sudah biasa jika mbok-mbok penjual menawarkan dagangannya penuh rayuan, “Ini lho den, ayu-ayu…”. Yang ayu itu bisa buah, penganan sampai ikan.

Teman saya, namanya Eko Waryono, seorang pecinta motor kuno, memberi jempol untuk sebuah kedai hidangan laut [seafood, gitu] entah di mana, “Bos, di sono tuh kepitingnya cakep-cakep, udangnya juga, padahal kagak pake gincu.” Eko bukan pencumbu ikan, secakep apapun ikan itu. Dia penyantap ikan dan hasil laut lainnya. Meski setiap orang dia panggil “bos”, ikan yang dia puji itu tak dia sapa sebagai “bos”.

Bagaimana dengan jenang bikinan Nyonya Y.M. Wignyowikarno asal Wedi, Klaten, Jawa Tengah? Jenangnya tergolong enak, meski yah berminyak. Lantas siapa yang ayu: jenang atau pembuatnya?

jenang ayu bu wignyo Sebagai dagangan, sudah selayaknya produsen menyebutnya ayu. Apalagi jenang niten ini punya paten, terdaftar di Departemen Kesehatan pula. Kurang apa coba?

Lha tentang Budhe Wignyo, pastilah beliau dapat menjelaskan ayunya sebuah bisnis keluarga: pasang-surut harus dihadapi dengan tabah, sarèh, aja dumèh. Bayangkan, terkenal sejak 1928!

Bisa jadi anggota Jong Java yang berangkat ke Kongres Pemuda di Batavia, untuk menghasilkan Sumpah Pemuda itu, berbekal jenang Ayu untuk pendongkrak stamina selama perjalanan. Belum jelas, apakah saat itu Budhe Wignyo sudah ada.

Lantas? Nah ini yang dari tadi Anda tunggu: Bu Wignyo itu ayu. Mandiri, serius, penuh percaya diri. Lihat saja fotonya: berkebaya, mengacungkan jempol. Sebuah pose berani untuk wanita Jawa tradisional. Ayu tenan.

 

Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus.

Kalau krisis energinya sudah amat menyedihkan, sehingga listrik menjadi amat sangat mahal, makin banyak saja kartu nama teman yang berganti kantor: “Titi Pelitahati, marketing manager, CV Semprong Kinclong Jaya”.

Semprong mudah pecah, karena kualitasnya memang kelas rakyat. Tapi tenanglah, ada warung yang menyediakannya. Meski tanpa standar industri, dan Anda cukup menggambarkan ukuran teplok, si penjual dapat memilihkan semprong yang diameternya pas dengan dudukan pada teplok.

Semprong yang mudah pecah mempermudah pemain jathilan untuk mendapatkan bahan keremusan saat kesurupan. Dalam keadaan trance mereka bisa mengeremus beling. “Kriuk! Crisss!” Lalu dilepeh “Buehhhh!” Tapi ketika semprong kian langka, pemain jathilan memanfaatkan pecahan lampu tabung [neon].

Esok ketika krisis energi kian parah, sehingga banyak rumah tangga akan berteplok, pemain jathilan akan mendapatkan jatah lamanya: semprong. Cap Jempol, dengan “kwalitet” terjamin, artinya pecahannya memang crispy.

Adakah dari Anda yang ingat cara membersihkan semprong?

 

bihun beras asli

Kata “asli” biasanya cuma buat klaim, embel-embel, bahwa suatu produk itu memang original, atau genuine, atau berbahan natural. Tapi “asli” sebagai merek? Ya ini. Bihun beras ini.

Eh, emang ada bihun yang bukan dari beras? Gambarnya? Lihat sendiri. Sosok ala Jaja Miharja dengan kaos garis merah-putih ala [stereotipikal sekaligus kartunal] Madura, dengan gaya karikatural berupa jempol yang besarnya tiga perempat badan — mungkin model aslinya difoto dengan lensa yang lebarrrr banget.
Terbikin di Sukaharjo, Jawa Tengah. Di mana itu? Dekat Surakarta, atau Sala, atau Solo. Salah satu kecamatannya lebih terkenal, yaitu Kartasura [kebalikan Surakarta, seperti Kyoto dan Kyoto]. Yang penting nama produsennya bisa bikin karyawan berbusung dada kalau ditanya calon mertua, “Kerja di mana, Nak?”

Jawabannya coba Anda cari sendiri, tanpa menambahkan “perusahaan bihun”. Sungguh sebuah organisasi bisnis dengan etos yang jauh dari cengengesan.

NB: Produk sejenis, tapi bukan bihun, dari Sukoharjo adalah ini.