Rokok ini sangat lokal. Bukan hanya lokasi pabrik dan peredarannya, melainkan juga mereknya. IkiAe, sebagai penyingkatan dari “iki wae”, berarti “ini (s)aja”. Akan lebih klop jika Anda melafalkannya dalam dialek Jawa Timur.
Saya lupa-lupa ingat dari mana Nona Hijau Nina Uletbulu Naikdaun mendapatkan rokok kretek bikinin PD Sumber Agung, Malang, ini. Dia sudah lama membelinya, lantas disimpan, untuk disumbangkan kepada saya. Baik hati bukan? Sudah begitu tidak sombong, dan gemar menabung.
Tapi dalam masa penyimpanan itu bungkus rokok bisa terbuka, bahkan isinya berkurang. “Ada yang nyobain,” katanya.
Pastilah si pencicip itu digerakkan oleh impuls kuat gara-gara merek yang meyakinkan: IkiAe. Ini saja.
Menariknya, IkiAe menggunakan simbol bintang. Ini mengingatkan kita pada sisa dalam tren visual yang bermula pada 2000 (atau akhir 1999?): bintang merah yang mengesankan kiri dan revolusioner. Begitu kuatnya penghidupan kembali ikon bintang ini sehingga beberapa desain kasual Calvin Klein pun ikut-ikutan berbintang merah. Bila digandengkan dengan topi Mao, cocoklah desain itu: merah tapi ramah terhadap kapital global (atau gombal?). Bisa juga digandengkan dengan kaos berbintang merahnya Tony Tantra.
Kiri dan revolusioner adalah hal yang sexy dan romantis. M.A.W. Brouwer, pastor fransiskan yang psikolog dan kolumnis itu, pernah berkata, “Jika seseorang pada masa mudanya kiri, itu pertanda ia punya hati. Tapi jika sampai tua tetap kiri, itu tanda ia tidak punya otak.”
IkiAe, iki wae, ini saja, memang sugestif. Pendekatan serupa, dengan idiom lokal, dilakukan oleh tabloid OtoPlus di Jawa Timur, keluaran penerbit dari Jakarta : Siji Ae! Arti slogan itu adalah Satu (s)Aja! Maksudnya, cukup membeli satu tabloid saja.
Terima kasih, Nina!