Wulung yang Ulung itu Doyan Duku?

28 February 2007 @ 18:34:52

rokok kelobot oeloeng duku bojonegoro

Dalam bahasa Jawa, ulung berarti burung wulung, atau alap-alap (Acipiter virgatus gularis). Dia memangsa unggas kecil, bukan buah semacam duku.

Lantas apa hubungan alap-alap dan duku? Pak Dahlan (?) dari Sumberrejo, Bojonegoro, juragan Oeloeng (?), tentu lebih tahu. Demikian pula Imponk, blogger asal Sumberrejo, yang mengirimkan foto ini.

Sebagai rokok, kelobot kretek mulai berkurang peminatnya. Anak-anak muda lebih menggemari rokok berfilter yang memberi kesan modern dan mengota.

Ciri khas sigaret klobot adalah bentuknya yang mengerucut. Ujung yang mengecil itulah yang dihisap. Dapatkah dibalik, mengisap ujung yang besar? Saya belum mencoba. Juga, belum pernah melihat orang merokok dengan cara itu.

Ini Saja, Cak!

28 November 2006 @ 23:07:44

rokok cap IkiAeRokok ini sangat lokal. Bukan hanya lokasi pabrik dan peredarannya, melainkan juga mereknya. IkiAe, sebagai penyingkatan dari “iki wae”, berarti “ini (s)aja”. Akan lebih klop jika Anda melafalkannya dalam dialek Jawa Timur.

Saya lupa-lupa ingat dari mana Nona Hijau Nina Uletbulu Naikdaun mendapatkan rokok kretek bikinin PD Sumber Agung, Malang, ini. Dia sudah lama membelinya, lantas disimpan, untuk disumbangkan kepada saya. Baik hati bukan? Sudah begitu tidak sombong, dan gemar menabung.
Tapi dalam masa penyimpanan itu bungkus rokok bisa terbuka, bahkan isinya berkurang. “Ada yang nyobain,” katanya.

Pastilah si pencicip itu digerakkan oleh impuls kuat gara-gara merek yang meyakinkan: IkiAe. Ini saja.

Menariknya, IkiAe menggunakan simbol bintang. Ini mengingatkan kita pada sisa dalam tren visual yang bermula pada 2000 (atau akhir 1999?): bintang merah yang mengesankan kiri dan revolusioner. Begitu kuatnya penghidupan kembali ikon bintang ini sehingga beberapa desain kasual Calvin Klein pun ikut-ikutan berbintang merah. Bila digandengkan dengan topi Mao, cocoklah desain itu: merah tapi ramah terhadap kapital global (atau gombal?). Bisa juga digandengkan dengan kaos berbintang merahnya Tony Tantra.

Kiri dan revolusioner adalah hal yang sexy dan romantis. M.A.W. Brouwer, pastor fransiskan yang psikolog dan kolumnis itu, pernah berkata, “Jika seseorang pada masa mudanya kiri, itu pertanda ia punya hati. Tapi jika sampai tua tetap kiri, itu tanda ia tidak punya otak.” :D

IkiAe, iki wae, ini saja, memang sugestif. Pendekatan serupa, dengan idiom lokal, dilakukan oleh tabloid OtoPlus di Jawa Timur, keluaran penerbit dari Jakarta : Siji Ae! Arti slogan itu adalah Satu (s)Aja! Maksudnya, cukup membeli satu tabloid saja.

Terima kasih, Nina!

Kretek Feodal: dari Priyayi untuk Kawula

18 June 2005 @ 0:21:27

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP].

Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem.

Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu.

Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis.

Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar.

Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, “Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya…”

Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman “peringatan sultan” ya? :D

Come to Malioboro…

2 February 2005 @ 0:56:32

Come to where the flavour is, come to Malioboro. Enak bener bikin plesetan merek. Saya nggak ngerti apakah Philip Morris Inc, si empunya merek Marlboro, akan marah, lantaran tembakau linting yang terkemas dalam amplop kertas terbungkus platik ini. Produk resmi, diakui pemerintah ["merek terdaftar", entah di mana], ada pita cukai pula. Harga banderol Rp 3.500, cukainya 8 persen. Sekadar perbandingan: harga banderol Sampoerna A Mild 16 batang adalah Rp 7.700, cukainya 40 persen. Artinya, konsumen setor pajak Rp 3.080 [jangan Anda hitung mudarat bernama racun] . Bikinan mana sih tembakau Malioboro itu? Yogya? Entah. Nama pabriknya “Taru Harum, Indonesia” [tanpa kota] — mengingatkan orang kepada Taru Martani, pengolahan tembakau di Baciro, Yogyakarta. Tentang Maliboro, masih simpang siur dari mana asal nama jalan di Yogya itu. Marlborough? Maliko Boro? Yang penting Malioboro itu memang “international“. Pakai barcode segala lho…
NB: bungkus ini aslinya berwarna merah Marlboro, tapi karena terjemur di dekat jendela si pemilik, seorang warga Salatiga, Jawa Tengah, maka jadi tergradasi. :)

Bersahaja, Percaya Diri

29 January 2005 @ 12:33:59

kertas sigaret cap segi-tiga

Dia, wong Solo itu, bukan Lesab yang gagah. Bukan pula Bustami Djolali yang funky. Dia, wong Solo itu, tampil apa adanya, seperti foto untuk KTP. Pemilhan mereknya pun simpel: Segi-Tiga. Anehnya si segitiga tak muncul sebagai ikon utama, tunggal, melainkan sebagai latar, dengan tambahan empat kembang mirip sakura [atau maksudnya cengkeh?]. Ah yang penting kan Karya Djaja, paling baik pula. Ingat, ya: “paling baik”. Merek lain, produk lain, benda lain, umumnya lebih suka kata “terbaik”.

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)