
Ini rokok rakyat, lintingan berbahan kelobot matang (sudah direbus, lalu dikeringkan, rasanya manis). Sebungkus berisi sepuluh batang rokok harga banderolnya Rp 2.150. Aroma saus atau esens sigaret ini kuat sekali. Harum, begitu. Tapi seperti umumnya rokok, harum tembakau (dan bumbu) hanya nikmat ketika belum dibakar.
Kenapa mereknya Walang Kèkèk (ya, pakai tanda baca pada huruf “e”), saya hanya dapat menduga dua hal yang berbeda. Pertama, merek ini muncul akhir 60-an ketika lagu Walang Kekek-nya Waldjinah sedang popular. Kedua, misalkan lebih dulu dari Waldjinah, walang kekek mungkin diakrabi masyarakat sekitar hutan jati, termasuk Ponorogo, Jawa Timur.
Tapi nanti dulu, apa itu walang (belalang) kekek? Saya belum tahu belalang apa itu. Kalau kita mencari di internet lebig sering bertemu cerita dan gambar tentang Wakdjinah. Tapi ada juga temuan menarik: Walang Kekek pernah menjadi judul film pada 1974, mengisahkan klub malam di… Lamongan! Â Tapi film yang melibatkan Srimulat itu batal edar.

Korek batangan belum tersingkirkan oleh korek gas. Uniknya, produsen bisa mengeluarkan merek, maupun ilustrasi, yang bermacam-macam. Misalnya yang bergambar Ontobugo — versi lain dari penyebutan Antaboga. Dalam pewayangan (Mahabarata), Sang Hyang Antaboga yang bisa berubah menjadi naga itu sangat sakti, bisa menghidupkan orang mati. Putri Antaboga bernama Dewi Nagagini. Perkawinan sang putri dengan Bima menghasilkan Antareja, tokoh underground (karena hidup di bawah permukaan tanah) yang salah satu kesaktiannya adalah jilatan maut; siapapun yang dia jilat telapak kakinya akan mati.
Minna juga bisa berarti nama sebuah kota di Nigeria. Sebagai rokok, merek yang masuk Jakarta selama setahun terakhir ini belum terlalu terkenal. Â Meskipun begitu, pada bungkusnya langsung tertera “pilihanku” — mirip kampanye pemilu. Tersebut pula dalam bungkus, “… sehingga tercipta sebuah rokok kretek Minna, rokok generasi baru berkualitas istimewa.” Rokok generasi baru untuk generasi yang mana? Generasi sekarang dan mendatang sebaiknya tidak merokok. Minna terbikin oleh PT Karya Dibya Mahardhika, Indonesia. Di kota apa? Kabarnya di Surabaya. Pemiliknya adalah eks-petinggi di PT Panamas (HM Sampoerna).

Selama ini Fidel Castro dikenal mencerutu, bukan merokok sigaret. Tapi menurut P.R. Putra Bintang Timur (namanya keren ya?), Malang, Castro doyan rokok, kretek pula. Lantas kenapa ada “sin” dalam nama Castro? Saya tidak tahu.

Random Posts
Kue tanpa Rasa Delima
September 14, 2005Ini bikinan Malang, Jawa Timur. Namanya kue koya. Rasanya manis. Berserbuk. Berbahan antara lain kacang hijau. Saya tak tahu sejak kapan ada. Ada yang bilang tahun 60-an sudah ada. Orang Malang mungkin bisa bercerita.
Yang khas dari koya adalah cara mengemasnya. Kue pipih bundar ini ditumpuk lima kemudian dibalut dengan kertas roti. Keunikan lain: [...]
Recent Comments
- Ichwan Antonio: Coba cari di PD LIDO telpon 021 6926075
- JP: Mas Antyo, kenal petinju Rukimin alias Rocky ini ini? Karena dia adalah kawan lama saya, dan saya sulit...
- eqwvwyvc: spa6d4 bcduumdmobmc
- Bunny: I can\’t hear anyhntig over the sound of how awesome this article is.
- pecah utax: jaman sekarang ; Mesti Hati2x milih makanan. bt ‘ penasaran jg menurut pndapat “Aming”....
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)






