label.blogombal.org

Bualan daripada Pemulung

Archive for the 'Rokok-merokok' Category

Wulung yang Ulung itu Doyan Duku?

rokok kelobot oeloeng duku bojonegoro

Dalam bahasa Jawa, ulung berarti burung wulung, atau alap-alap (Acipiter virgatus gularis). Dia memangsa unggas kecil, bukan buah semacam duku.

Lantas apa hubungan alap-alap dan duku? Pak Dahlan (?) dari Sumberrejo, Bojonegoro, juragan Oeloeng (?), tentu lebih tahu. Demikian pula Imponk, blogger asal Sumberrejo, yang mengirimkan foto ini.

Sebagai rokok, kelobot kretek mulai berkurang peminatnya. Anak-anak muda lebih menggemari rokok berfilter yang memberi kesan modern dan mengota.

Ciri khas sigaret klobot adalah bentuknya yang mengerucut. Ujung yang mengecil itulah yang dihisap. Dapatkah dibalik, mengisap ujung yang besar? Saya belum mencoba. Juga, belum pernah melihat orang merokok dengan cara itu.

posted by Antyo in Rokok-merokok and have Comments (6)

Ini Saja, Cak!

rokok cap IkiAeRokok ini sangat lokal. Bukan hanya lokasi pabrik dan peredarannya, melainkan juga mereknya. IkiAe, sebagai penyingkatan dari “iki wae”, berarti “ini (s)aja”. Akan lebih klop jika Anda melafalkannya dalam dialek Jawa Timur.

Saya lupa-lupa ingat dari mana Nona Hijau Nina Uletbulu Naikdaun mendapatkan rokok kretek bikinin PD Sumber Agung, Malang, ini. Dia sudah lama membelinya, lantas disimpan, untuk disumbangkan kepada saya. Baik hati bukan? Sudah begitu tidak sombong, dan gemar menabung.
Tapi dalam masa penyimpanan itu bungkus rokok bisa terbuka, bahkan isinya berkurang. “Ada yang nyobain,” katanya.

Pastilah si pencicip itu digerakkan oleh impuls kuat gara-gara merek yang meyakinkan: IkiAe. Ini saja.

Menariknya, IkiAe menggunakan simbol bintang. Ini mengingatkan kita pada sisa dalam tren visual yang bermula pada 2000 (atau akhir 1999?): bintang merah yang mengesankan kiri dan revolusioner. Begitu kuatnya penghidupan kembali ikon bintang ini sehingga beberapa desain kasual Calvin Klein pun ikut-ikutan berbintang merah. Bila digandengkan dengan topi Mao, cocoklah desain itu: merah tapi ramah terhadap kapital global (atau gombal?). Bisa juga digandengkan dengan kaos berbintang merahnya Tony Tantra.

Kiri dan revolusioner adalah hal yang sexy dan romantis. M.A.W. Brouwer, pastor fransiskan yang psikolog dan kolumnis itu, pernah berkata, “Jika seseorang pada masa mudanya kiri, itu pertanda ia punya hati. Tapi jika sampai tua tetap kiri, itu tanda ia tidak punya otak.” :D

IkiAe, iki wae, ini saja, memang sugestif. Pendekatan serupa, dengan idiom lokal, dilakukan oleh tabloid OtoPlus di Jawa Timur, keluaran penerbit dari Jakarta : Siji Ae! Arti slogan itu adalah Satu (s)Aja! Maksudnya, cukup membeli satu tabloid saja.

Terima kasih, Nina!

posted by Antyo in Rokok-merokok and have Comments (7)

Kretek Feodal: dari Priyayi untuk Kawula

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP].

Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem.

Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu.

Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis.

Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar.

Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, “Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya…”

Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman “peringatan sultan” ya? :D

posted by Antyo in Rokok-merokok, Rumah tangga and have Comments (3)

Come to Malioboro…

Come to where the flavour is, come to Malioboro. Enak bener bikin plesetan merek. Saya nggak ngerti apakah Philip Morris Inc, si empunya merek Marlboro, akan marah, lantaran tembakau linting yang terkemas dalam amplop kertas terbungkus platik ini. Produk resmi, diakui pemerintah ["merek terdaftar", entah di mana], ada pita cukai pula. Harga banderol Rp 3.500, cukainya 8 persen. Sekadar perbandingan: harga banderol Sampoerna A Mild 16 batang adalah Rp 7.700, cukainya 40 persen. Artinya, konsumen setor pajak Rp 3.080 [jangan Anda hitung mudarat bernama racun] . Bikinan mana sih tembakau Malioboro itu? Yogya? Entah. Nama pabriknya “Taru Harum, Indonesia” [tanpa kota] — mengingatkan orang kepada Taru Martani, pengolahan tembakau di Baciro, Yogyakarta. Tentang Maliboro, masih simpang siur dari mana asal nama jalan di Yogya itu. Marlborough? Maliko Boro? Yang penting Malioboro itu memang “international“. Pakai barcode segala lho…
NB: bungkus ini aslinya berwarna merah Marlboro, tapi karena terjemur di dekat jendela si pemilik, seorang warga Salatiga, Jawa Tengah, maka jadi tergradasi. :)

posted by Antyo in Rokok-merokok and have Comments (2)