Penari, penyanyi, penari-penyanyi

29 January 2005 @ 12:30:59

rokok klembak menyan cap sintrenYang satu adalah kertas sigaret, bergambar penari sedang bersimpuh, tapi mereknya Sinden. Yang lainnya adalah rokok siong atau klembak menyan yang baunya bikin mabuk dan [menurut gurauan] bisa mengundang setan — gile, paru-paru dijadiin nisan kuburan. Pesinden dan sintren, adalah primadona yang menjadi magnet dalam tontonan rakyat. Penonton pria terbuai dan mabuk asmara mapun mabuk ciu karena mereka. Bagi penikmatnya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis. Sama seperti orang merokok: semata demi kenikmatan, bahkan rokok secara medis tak membawa faedah. Tapi ya itulah, mereka layak diper-merek-kan. Lantas kenapa ada “Extra” dalam Sinden? Apanya yang ekstra? Terus kenapa pesinden bergaya seperti penari? Apakah dia kerja rangkap seperti penyayi modern: ya menyanyi, ya menari?

rokok klembak menyan cap sintren

Simpel, jujur, apa adanya

27 January 2005 @ 13:01:22

kertas sigaret cap orang merokok

Belum jelas kenapa juragan kertas lintingan tembakau ini memakai merek “orang merokok”. Karena putus asa mencari merek lantas akhirnya kembali kepada sisi paling sederhana, atau sekali menerawang langsung dapat ilham?

Saya membayangkan orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia akan terpeleset. Mereka akan mengira merek produk ini adalah “kertas rokok”, terutama bila cuma menilik dari satu sisi.

Sungguh sederhana. Cuma satu warna tinta, ungu di atas kertas HVS putih dengan latar batik. Begitu sederhananya sehingga saya kehilangan jurus untuk membual.

Tapi, nanti dulu. Lihatlah penggunaan siluet yang mirip potret guntingan itu. Canggih juga lho untuk produk rakyat, yang tampaknya sudah lama ada, tapi pada pertengahan 1990-an saya masih menemukannya di sebuah pasar desa di Jawa Tengah. Siluet, bayangkan. Bandingkan dengan Pak Lesab.

Kekejaman dalam Merek Dagang

4 November 2004 @ 21:14:35

korek api cap adu ayam

Saya tak ingat persis puisi Taufiq Ismail ketika memrotes adu tinju bayaran di ring. Kalau tak salah [mohon Anda koreksi] ada “nenekku berpesan, jangan sekali-kali kau mengadu binatang”.

Adu binatang memang memedihkan kita. Dari adu jangkrik, adu ikan, adu domba, sampai adu jago dan entah adu apa lagi. Makhluk-makhluk itu dilatih untuk saling menyakiti dengan akibat cacat bahkan mati.

Makhluk-makhluk itu bukan berkelahi di alam bebas karena naluri — dengan atau tanpa manusia penonton. Makhluk-makhluk itu didorong, dipaksa, untuk berkelahi, semata demi hiburan dan pertaruhan.

Saya tak menutup mata, bahwa pada masyarakat tertentu, adu jago adalah bagian dari tradisi — tentu dengan gerundelan: memangnya kalau sudah jadi tradisi berarti benar?

Saya tak habis pikir kenapa Jonkoping-Vulcan, produsen korek api tenar dari Swedia, negeri pecinta damai itu [tapi Olaf Palme, sang perdana menteri, dijemput ajal oleh letusan Smith & Wesson, di jalanan, sepulang dari bioskop bersama istri], menambahkan merek lokal di Indonesia berupa adu ayam.

Sesuatu yang hidup dalam masyarakat, memang menggoda untuk dipermerekkan. Tapi kenapa harus adu jago? Kenapa?

Gara-gara: Dihindari, Dinanti

27 October 2004 @ 20:10:19

gara-gara klembak menyan

Gara-gara [kalau dalam bahasa Jawa harap dibaca: "goro-goro"] bisa berarti sumber masalah, sehingga harus dihindari.

Gara-gara juga berarti selingan dalam pertunjukan wayang kulit, saat keluarnya para punakawan cengengesan pada tengah malam, sehingga dinantikan penonton untuk mengerem kantuk.

Di situlah dalang bebas berimprovisasi. Mau sekadar ndagel, boleh. Mau menyisipkan pesan pribadi maupun titipan sponsor, silakan.

Lantas kenapa kelembak [dari akar Rheum officianale?], bubuk kasar untuk dicampurkan dengan tembakau buat dilinting, ini memakai merek Gara-gara?

Mungkin agar tercipta suasana gayeng, akrab, dan penuh cengengesan èjlègèwèr, dalam diri para pengisap rokok kelembak.

Tapi yah, bagi orang lain, bau asap sigaret kelembak yang berempah itu bisa bikin pening. Apalagi jika dicampur dengan [ke]menyan, wuahhh… aromanya bakal mempertemukan orang yang tak tahan bau dengan yang namanya gara-gara. Si pengisap mencari gara-gara, meski niatnya bersenang-senang, dan orang lain tinggal memetik hasilnya: pusing, mual. Itulah goro-goro.

Jika kita tilik gambarnya, gojekan Petruk dan Gareng itu memang berbahaya, berbau kekerasan, karena melibatkan arit. Namanya juga [cari] gara-gara, supaya dapat goro-goro.

Raja Turki

21 October 2004 @ 20:04:33

Raja Turki ala Stamboelan

Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata “stamboel” berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah.

Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini.

“Stamboelan”, sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam — tepatnya raja sekian jam — karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling.

Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D

« Prev - Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)