Come to where the flavour is, come to Malioboro. Enak bener bikin plesetan merek. Saya nggak ngerti apakah Philip Morris Inc, si empunya merek Marlboro, akan marah, lantaran tembakau linting yang terkemas dalam amplop kertas terbungkus platik ini. Produk resmi, diakui pemerintah ["merek terdaftar", entah di mana], ada pita cukai pula. Harga banderol Rp 3.500, cukainya 8 persen. Sekadar perbandingan: harga banderol Sampoerna A Mild 16 batang adalah Rp 7.700, cukainya 40 persen. Artinya, konsumen setor pajak Rp 3.080 [jangan Anda hitung mudarat bernama racun] . Bikinan mana sih tembakau Malioboro itu? Yogya? Entah. Nama pabriknya “Taru Harum, Indonesia” [tanpa kota] — mengingatkan orang kepada Taru Martani, pengolahan tembakau di Baciro, Yogyakarta. Tentang Maliboro, masih simpang siur dari mana asal nama jalan di Yogya itu. Marlborough? Maliko Boro? Yang penting Malioboro itu memang “international“. Pakai barcode segala lho…
NB: bungkus ini aslinya berwarna merah Marlboro, tapi karena terjemur di dekat jendela si pemilik, seorang warga Salatiga, Jawa Tengah, maka jadi tergradasi. :)

 

kertas sigaret cap segi-tiga

Dia, wong Solo itu, bukan Lesab yang gagah. Bukan pula Bustami Djolali yang funky. Dia, wong Solo itu, tampil apa adanya, seperti foto untuk KTP. Pemilhan mereknya pun simpel: Segi-Tiga. Anehnya si segitiga tak muncul sebagai ikon utama, tunggal, melainkan sebagai latar, dengan tambahan empat kembang mirip sakura [atau maksudnya cengkeh?]. Ah yang penting kan Karya Djaja, paling baik pula. Ingat, ya: “paling baik”. Merek lain, produk lain, benda lain, umumnya lebih suka kata “terbaik”.

 

rokok klembak menyan cap sintrenYang satu adalah kertas sigaret, bergambar penari sedang bersimpuh, tapi mereknya Sinden. Yang lainnya adalah rokok siong atau klembak menyan yang baunya bikin mabuk dan [menurut gurauan] bisa mengundang setan — gile, paru-paru dijadiin nisan kuburan. Pesinden dan sintren, adalah primadona yang menjadi magnet dalam tontonan rakyat. Penonton pria terbuai dan mabuk asmara mapun mabuk ciu karena mereka. Bagi penikmatnya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis. Sama seperti orang merokok: semata demi kenikmatan, bahkan rokok secara medis tak membawa faedah. Tapi ya itulah, mereka layak diper-merek-kan. Lantas kenapa ada “Extra” dalam Sinden? Apanya yang ekstra? Terus kenapa pesinden bergaya seperti penari? Apakah dia kerja rangkap seperti penyayi modern: ya menyanyi, ya menari?

rokok klembak menyan cap sintren

 

kertas sigaret cap orang merokok

Belum jelas kenapa juragan kertas lintingan tembakau ini memakai merek “orang merokok”. Karena putus asa mencari merek lantas akhirnya kembali kepada sisi paling sederhana, atau sekali menerawang langsung dapat ilham?

Saya membayangkan orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia akan terpeleset. Mereka akan mengira merek produk ini adalah “kertas rokok”, terutama bila cuma menilik dari satu sisi.

Sungguh sederhana. Cuma satu warna tinta, ungu di atas kertas HVS putih dengan latar batik. Begitu sederhananya sehingga saya kehilangan jurus untuk membual.

Tapi, nanti dulu. Lihatlah penggunaan siluet yang mirip potret guntingan itu. Canggih juga lho untuk produk rakyat, yang tampaknya sudah lama ada, tapi pada pertengahan 1990-an saya masih menemukannya di sebuah pasar desa di Jawa Tengah. Siluet, bayangkan. Bandingkan dengan Pak Lesab.