
Saya tak ingat persis puisi Taufiq Ismail ketika memrotes adu tinju bayaran di ring. Kalau tak salah [mohon Anda koreksi] ada “nenekku berpesan, jangan sekali-kali kau mengadu binatang”.
Adu binatang memang memedihkan kita. Dari adu jangkrik, adu ikan, adu domba, sampai adu jago dan entah adu apa lagi. Makhluk-makhluk itu dilatih untuk saling menyakiti dengan akibat cacat bahkan mati.
Makhluk-makhluk itu bukan berkelahi di alam bebas karena naluri — dengan atau tanpa manusia penonton. Makhluk-makhluk itu didorong, dipaksa, untuk berkelahi, semata demi hiburan dan pertaruhan.
Saya tak menutup mata, bahwa pada masyarakat tertentu, adu jago adalah bagian dari tradisi — tentu dengan gerundelan: memangnya kalau sudah jadi tradisi berarti benar?
Saya tak habis pikir kenapa Jonkoping-Vulcan, produsen korek api tenar dari Swedia, negeri pecinta damai itu [tapi Olaf Palme, sang perdana menteri, dijemput ajal oleh letusan Smith & Wesson, di jalanan, sepulang dari bioskop bersama istri], menambahkan merek lokal di Indonesia berupa adu ayam.
Sesuatu yang hidup dalam masyarakat, memang menggoda untuk dipermerekkan. Tapi kenapa harus adu jago? Kenapa?

Gara-gara [kalau dalam bahasa Jawa harap dibaca: "goro-goro"] bisa berarti sumber masalah, sehingga harus dihindari.
Gara-gara juga berarti selingan dalam pertunjukan wayang kulit, saat keluarnya para punakawan cengengesan pada tengah malam, sehingga dinantikan penonton untuk mengerem kantuk.
Di situlah dalang bebas berimprovisasi. Mau sekadar ndagel, boleh. Mau menyisipkan pesan pribadi maupun titipan sponsor, silakan.
Lantas kenapa kelembak [dari akar Rheum officianale?], bubuk kasar untuk dicampurkan dengan tembakau buat dilinting, ini memakai merek Gara-gara?
Mungkin agar tercipta suasana gayeng, akrab, dan penuh cengengesan èjlègèwèr, dalam diri para pengisap rokok kelembak.
Tapi yah, bagi orang lain, bau asap sigaret kelembak yang berempah itu bisa bikin pening. Apalagi jika dicampur dengan [ke]menyan, wuahhh… aromanya bakal mempertemukan orang yang tak tahan bau dengan yang namanya gara-gara. Si pengisap mencari gara-gara, meski niatnya bersenang-senang, dan orang lain tinggal memetik hasilnya: pusing, mual. Itulah goro-goro.
Jika kita tilik gambarnya, gojekan Petruk dan Gareng itu memang berbahaya, berbau kekerasan, karena melibatkan arit. Namanya juga [cari] gara-gara, supaya dapat goro-goro.

Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata “stamboel” berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah.
Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini.
“Stamboelan”, sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam — tepatnya raja sekian jam — karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling.
Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D

Bu Sri Rukmini yakin betul bahwa produknya bagus. Tapi karena dia memakai ilmu padi, maka dia tak mau bilang “terbaik”. Cukup menyatakan produknya terseleksi, sehingga “putih sederhana”, lagi lemas.
Produk Bu Sri adalah lembar daun kawung, atau daun enau [Arenga pinnata], yang sudah dikeringkan, untuk menjadi pengganti kertas sigaret lintingan.
Saya mendapatkan produk yang terkemas dalam kertas minyak — seperti kertas sampul tambahan pada buku rapor saya waktu SD — di Pasar Pondokgede, awal 1993. Si penjual mengira saya membelinya untuk kakek saya. Saat itu penikmat rokok kawung sudah mulai langka.
Random Posts
Teman Nelayan Masuk Kaleng
March 3, 2007Bukan hanya ikan lemuru yang akhirnya masuk kaleng dan disebut sebagai sarden. Teman nelayan, berupa permen pedas (lozenges) pun boleh dimasukkan ke dalam kaleng yang disediakan secara khusus.
Kaleng Fisherman’s Friend ini pernah ada, tapi tanpa embel-embel peringatan “30 tahun hadir di Asia Pasifik”. Lantas pada 2006 muncul kemasan edisi khusus “dalam rangka”, yang [...]
Recent Comments
- sule: q butuh plstk jerapah ukuran 7-20.tolong hub saya bagi y menyediakan.trms
- patricia: untuk cari platesin merk ini bs cb buka di web : http://akarsanaagung.wordpress .com
- dwi si topi miring: mantaf
- Bismaa: Ehh, itu kan eyang saya .. Benerr suerr, kok bisa ada di internet ?
- Bismaa: Ehh, itu kan eyang saya .. Benerr suerr, kok bisa ada di internet ?
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)






