Aladin Naik Tikar

Siapa bilang Aladdin alias Aladin naik babut terbang? Ternyata, dengan lampu wasiatnya, dia memilih naik tikar plastik seharga Rp 35.000 yang dijual di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.
Hmmm… tikar plastik. Tikar ini muncul tahun 70-an sebagai pelengkap tikar pandan dan tikar mendong. Tikar plastik yang sumuk ini lebih tahan air, kalau terkena ompol mudah dibersihkan dengan harapan aroma pesing segera menguap.
Plastik menjadi tikar itu menyusul maraknya plastik sedotan untuk minum limun pada tahun 70-an. Setelah itu banyak barang berubah menjadi berplastik. Akibat yang terlihat di pelataran rumah saya: penggalian jugangan (lubang galian untuk sampah) “baru” selalu menemukan plastik.
Pembuatan jugangan pada rumah-rumah lama, yang berhalaman luas, memang seperti ladang berpindah. Siklis, setiap lubang akan kembali ke lubang yang lama, dengan pengandaian arang dan abu pembakaran sampah lama sudah terurai oleh tanah.
Terus, mengapa si produsen menggunakan merek Aladin? Maaf saya tak berwenang menjawab karena belum ditunjuk menjadi juru bicara.





Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus.