Aladin Naik Tikar

1 February 2008 @ 15:52:39

tikar plastik cap aladin

Siapa bilang Aladdin alias Aladin naik babut terbang? Ternyata, dengan lampu wasiatnya, dia memilih naik tikar plastik seharga Rp 35.000 yang dijual di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.

Hmmm… tikar plastik. Tikar ini muncul tahun 70-an sebagai pelengkap tikar pandan dan tikar mendong. Tikar plastik yang sumuk ini lebih tahan air, kalau terkena ompol mudah dibersihkan dengan harapan aroma pesing segera menguap.

Plastik menjadi tikar itu menyusul maraknya plastik sedotan untuk minum limun pada tahun 70-an. Setelah itu banyak barang berubah menjadi berplastik. Akibat yang terlihat di pelataran rumah saya: penggalian jugangan (lubang galian untuk sampah) “baru” selalu menemukan plastik.

Pembuatan jugangan pada rumah-rumah lama, yang berhalaman luas, memang seperti ladang berpindah. Siklis, setiap lubang akan kembali ke lubang yang lama, dengan pengandaian arang dan abu pembakaran sampah lama sudah terurai oleh tanah.

Terus, mengapa si produsen menggunakan merek Aladin? Maaf saya tak berwenang menjawab karena belum ditunjuk menjadi juru bicara.

Yang Penting Lancar Lagi Jaya

26 August 2007 @ 13:03:09

sothil cap lancar jaya

sothil lancar jaya

Ini barang biasa. Sekadar kitchen utensil. Harganya cuma Rp 5.000. Saya jumpai di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta, pekan lalu. Mereknya? Juga biasa. Cuma “Lancar Jaya” — nyaris generik.

Lantas di mana menariknya sothil berbahan kayu ini? Justru pada merek yang biasa saja, bersahaja, sehingga sering jadi ungkapan: lancar jaya.

“Lancar jaya” serupa dengan “maju jaya”, “makmur jaya”, “jaya abadi”, “terang jaya”, dan silakan Anda sebut yang sebangsanya. Nama-nama itu sering jadi pilihan nama toko, CV, dan usaha dagang.

Nama-nama yang tak menjanjikan kebaruan, tak menyugestikan terobosan inovatif, tapi bagi pemiliknya boleh jadi itu adalah pertaruhan nasib karena menyangkut kelangsungan usaha.

“Jaya”, itu sebuah cita-cita. Siapa juga yang mau si keok pecundang. Hanya dengan hasrat dan impian maka sebuah bisnis akan digeluti dengan sepenuh hati, bukan cuma iseng untuk buang duit sambil cengengesan.

“Lancar”, itu sebuah perjalanan tanpa hambatan sehingga tujuan akan lekas tercapai.

Hari gini masih ada orang berani pasang merek yang nyaris generik, sungguh menarik. Pilihan ekstrem sekarang adalah bikin merek usaha yang keren, kebarat-baratan, bisa juga berbau bahasa tinggi Indonesia (atau Sansekerta), dan di sisi lain adalah merek yang seadanya, sederhana, agak ndagel sekaligus meledek. Misalnya PT Jujurjaya, penerbit majalah gratisan Loud, milik Ridho Slank Hafidz.

Dunia merek kadangkala merupakan peta benak sebuah masyarakat.

Kingkong Menambur Dada

19 December 2006 @ 20:14:23

baterai cap kingkong loe lawan!

Dung! Dung! Dung! Kingkong menambur dada. Lantas muncullah setrum, yang kemudian dikemas sebagai baterai.

Baterai cap Kingkong ini barang rakyat. Biasanya tesertakan sebagai paket dalam produk elektronik murah(an) bikinan RRC yang membanjiri Indonesia. Saya pernah melihat baterai ini juga dijajakan di kaki lima dan bus kota.

Siapa produsennya? Dalam kemasan tertulis “Kingkong Electronics Co.Ltd.” — tanpa kota maupun negara, apalagi standar industrial rujukan.

Baterai ini bisa menjadi berkelas heavy duty kalau kingkongnya sangat besar dan pukulannya ke dada sendiri sangat kuat. Grhhhhhh!

Racun-meracun

21 December 2005 @ 13:32:40

racun tikus

Barangkali peracunan adalah salah satu langkah kuno untuk melenyapkan nyawa makhluk lain. Selangkah lebih canggih ketimbang mencekik, memukul dan membanting.

Langkah kuno — ya peracunan itu — nyatanya masih dilakukan sampai hari ini. Contoh terakhir adalah Munir, aktivis HAM itu. Di luar negeri, ada politikus yang diracun sehingga wajahnya berubah.

Nah racun tikus bikinan Sumber Djadi, Solo, Jawa Tengah, itu tentu saja untuk tikus. Disebut sebagai obat keras. Aha! Obat! Apapun yang berbau laboratoris atau kimiawi, oleh awam akan disebut sebagai “obat” padahal bukan penyembuh.

Terkemas secara sederhana, dalam kertas HVS tersablon [cukup dua warna], racun ini saya dapat di sebuah pasar di Bojonegoro. Sedangkan racun lainnya, untuk tikus dan celeng itu [mengerikan, alangkah jauh rentang kemustajabannya!], itu saya dapatkan di Pasar Ngasem Yogyakarta.

Sungguh sebuah resep yang sempurna, menyerupai mereknya [Sampurna], dengan anjuran yang efektif: campurkan dengan makanan. Di tangan orang sembrono, gambar tengkorak terlingkar itu akan menjadi sugesti bengis.

racun tikus

Thumb Up! [Kriuk! Crisss!]

13 September 2005 @ 0:06:19

Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus.

Kalau krisis energinya sudah amat menyedihkan, sehingga listrik menjadi amat sangat mahal, makin banyak saja kartu nama teman yang berganti kantor: “Titi Pelitahati, marketing manager, CV Semprong Kinclong Jaya”.

Semprong mudah pecah, karena kualitasnya memang kelas rakyat. Tapi tenanglah, ada warung yang menyediakannya. Meski tanpa standar industri, dan Anda cukup menggambarkan ukuran teplok, si penjual dapat memilihkan semprong yang diameternya pas dengan dudukan pada teplok.

Semprong yang mudah pecah mempermudah pemain jathilan untuk mendapatkan bahan keremusan saat kesurupan. Dalam keadaan trance mereka bisa mengeremus beling. “Kriuk! Crisss!” Lalu dilepeh “Buehhhh!” Tapi ketika semprong kian langka, pemain jathilan memanfaatkan pecahan lampu tabung [neon].

Esok ketika krisis energi kian parah, sehingga banyak rumah tangga akan berteplok, pemain jathilan akan mendapatkan jatah lamanya: semprong. Cap Jempol, dengan “kwalitet” terjamin, artinya pecahannya memang crispy.

Adakah dari Anda yang ingat cara membersihkan semprong?

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)