Dunia pewayangan sering menjadi sumber merek-merek lama untuk produk yang menyasar rakyat kebanyakan. Mungkin karena dunia perlambang dan idola dulu masih terbatas. Pada beberapa jenis produk berupa sachet kertas, nama tokoh pewayangan termasuk favorit. Misalnya vanili cap Hanoman, wènter (pewarna kain) cap Kresno, dan bubuk pemutih cucian cap Kumbo Karno. Nah yang ini adalah tères atau sumba cap Hanoman, bikinan Solo. Masih dijual di pedesaan Wonogiri, Jawa Tengah. Mungkin cocok untukmengganti si kera putih karena warna putih itu paling semanak untuk diwarnai.

Merek lainyang non-wayang untuk tères dan wènter (bukan untuk makanan) misalnya Stoples dan Kalkun.

Tagged with:
 

Ini vanili klasik, bikinan Solo, yang masih bertahan. Saya mendapatkannya di Ponorogo, Jawa Timur, dengan harga Rp 200 per sachet. Kemasan kertas sudah modern seperti kantong gula (lihat contoh di kantongrasa.com). Dengan wadah kertas, aroma khas vanili lebih menerobos ke luar. Mengapa memakai merek Hanoman, saya tak tahu. Memang sih tak sedikit produk lawas yang dikemas dalam kantong yang memakai merek wayang, misalnya pemutih cucian cap Kumbokarno.

vanili solo cap hanoman

Tagged with:
 

tikar plastik cap aladin

Siapa bilang Aladdin alias Aladin naik babut terbang? Ternyata, dengan lampu wasiatnya, dia memilih naik tikar plastik seharga Rp 35.000 yang dijual di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.

Hmmm… tikar plastik. Tikar ini muncul tahun 70-an sebagai pelengkap tikar pandan dan tikar mendong. Tikar plastik yang sumuk ini lebih tahan air, kalau terkena ompol mudah dibersihkan dengan harapan aroma pesing segera menguap.

Plastik menjadi tikar itu menyusul maraknya plastik sedotan untuk minum limun pada tahun 70-an. Setelah itu banyak barang berubah menjadi berplastik. Akibat yang terlihat di pelataran rumah saya: penggalian jugangan (lubang galian untuk sampah) “baru” selalu menemukan plastik.

Pembuatan jugangan pada rumah-rumah lama, yang berhalaman luas, memang seperti ladang berpindah. Siklis, setiap lubang akan kembali ke lubang yang lama, dengan pengandaian arang dan abu pembakaran sampah lama sudah terurai oleh tanah.

Terus, mengapa si produsen menggunakan merek Aladin? Maaf saya tak berwenang menjawab karena belum ditunjuk menjadi juru bicara.

 

sothil cap lancar jaya

sothil lancar jaya

Ini barang biasa. Sekadar kitchen utensil. Harganya cuma Rp 5.000. Saya jumpai di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta, pekan lalu. Mereknya? Juga biasa. Cuma “Lancar Jaya” — nyaris generik.

Lantas di mana menariknya sothil berbahan kayu ini? Justru pada merek yang biasa saja, bersahaja, sehingga sering jadi ungkapan: lancar jaya.

“Lancar jaya” serupa dengan “maju jaya”, “makmur jaya”, “jaya abadi”, “terang jaya”, dan silakan Anda sebut yang sebangsanya. Nama-nama itu sering jadi pilihan nama toko, CV, dan usaha dagang.

Nama-nama yang tak menjanjikan kebaruan, tak menyugestikan terobosan inovatif, tapi bagi pemiliknya boleh jadi itu adalah pertaruhan nasib karena menyangkut kelangsungan usaha.

“Jaya”, itu sebuah cita-cita. Siapa juga yang mau si keok pecundang. Hanya dengan hasrat dan impian maka sebuah bisnis akan digeluti dengan sepenuh hati, bukan cuma iseng untuk buang duit sambil cengengesan.

“Lancar”, itu sebuah perjalanan tanpa hambatan sehingga tujuan akan lekas tercapai.

Hari gini masih ada orang berani pasang merek yang nyaris generik, sungguh menarik. Pilihan ekstrem sekarang adalah bikin merek usaha yang keren, kebarat-baratan, bisa juga berbau bahasa tinggi Indonesia (atau Sansekerta), dan di sisi lain adalah merek yang seadanya, sederhana, agak ndagel sekaligus meledek. Misalnya PT Jujurjaya, penerbit majalah gratisan Loud, milik Ridho Slank Hafidz.

Dunia merek kadangkala merupakan peta benak sebuah masyarakat.