label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Archive for the ‘Rumah tangga’ Category

Rumah tangga

December 21, 2005

Racun-meracun

racun tikus

Barangkali peracunan adalah salah satu langkah kuno untuk melenyapkan nyawa makhluk lain. Selangkah lebih canggih ketimbang mencekik, memukul dan membanting.

Langkah kuno — ya peracunan itu — nyatanya masih dilakukan sampai hari ini. Contoh terakhir adalah Munir, aktivis HAM itu. Di luar negeri, ada politikus yang diracun sehingga wajahnya berubah.

Nah racun tikus bikinan Sumber Djadi, Solo, Jawa Tengah, itu tentu saja untuk tikus. Disebut sebagai obat keras. Aha! Obat! Apapun yang berbau laboratoris atau kimiawi, oleh awam akan disebut sebagai “obat” padahal bukan penyembuh.

Terkemas secara sederhana, dalam kertas HVS tersablon [cukup dua warna], racun ini saya dapat di sebuah pasar di Bojonegoro. Sedangkan racun lainnya, untuk tikus dan celeng itu [mengerikan, alangkah jauh rentang kemustajabannya!], itu saya dapatkan di Pasar Ngasem Yogyakarta.

Sungguh sebuah resep yang sempurna, menyerupai mereknya [Sampurna], dengan anjuran yang efektif: campurkan dengan makanan. Di tangan orang sembrono, gambar tengkorak terlingkar itu akan menjadi sugesti bengis.

racun tikus

Produk jempolan, Rumah tangga

September 13, 2005

Thumb Up! [Kriuk! Crisss!]

Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus.

Kalau krisis energinya sudah amat menyedihkan, sehingga listrik menjadi amat sangat mahal, makin banyak saja kartu nama teman yang berganti kantor: “Titi Pelitahati, marketing manager, CV Semprong Kinclong Jaya”.

Semprong mudah pecah, karena kualitasnya memang kelas rakyat. Tapi tenanglah, ada warung yang menyediakannya. Meski tanpa standar industri, dan Anda cukup menggambarkan ukuran teplok, si penjual dapat memilihkan semprong yang diameternya pas dengan dudukan pada teplok.

Semprong yang mudah pecah mempermudah pemain jathilan untuk mendapatkan bahan keremusan saat kesurupan. Dalam keadaan trance mereka bisa mengeremus beling. “Kriuk! Crisss!” Lalu dilepeh “Buehhhh!” Tapi ketika semprong kian langka, pemain jathilan memanfaatkan pecahan lampu tabung [neon].

Esok ketika krisis energi kian parah, sehingga banyak rumah tangga akan berteplok, pemain jathilan akan mendapatkan jatah lamanya: semprong. Cap Jempol, dengan “kwalitet” terjamin, artinya pecahannya memang crispy.

Adakah dari Anda yang ingat cara membersihkan semprong?

Rokok-merokok, Rumah tangga

June 18, 2005

Kretek Feodal: dari Priyayi untuk Kawula

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP].

Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem.

Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu.

Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis.

Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar.

Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, “Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya…”

Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman “peringatan sultan” ya? :D

Rumah tangga

February 12, 2005

Warna itu kasih

Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: “membaharui warna pakaian”. Yang belum jelas adalah kenapa ada “mbangun-trisno” [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk “kuning podang”, selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!