Kembali Bersinar, Tanyailah Batman

15 November 2004 @ 21:34:16

blau atau blao pemutih pakaian

Ajaib! Yang namanya pemutih model lama ini ternyata masih ada. Lidah kampung bilang “blau” dan “blao”, begitu pula produsennya. Sesuai nama [mungkin dari pelafalan lokal terhadap bahasa Belanda], warnanya memang biru, berupa bongkahan untuk dilarutkan ke dalam air, lantas air kebiruan itu buat merendam pakaian putih yang sudah kekuningan.

Apakah nantinya kain itu akan kembali putih? Belum tentu. Kadang cuma jadi putih kebiruan, dan oleh penggemarnya itu sudah diyakini lebih bagus ketimbang mangkak atau putih kekuningan.

Apa boleh buat, ketika bleaching belum banyak dikenal, dan klorin yang kurang ramah lingkungan pun belum jadi kebutuhan, maka pembiruan kain sudah dianggap memadai. Biru yang menggenangi putih, mungkin, dianggap lebih tulus ketimbang putih yang memudar jadi kekuningan.

Pemblauan ini ditempuh setelah penglanthangan, yaitu menggelar jemuran putih di atas rumput atau perdu semalaman agar kain kembali menjadi putih bersinar, dianggap kurang efektif.

Lantas, kenapa mereknya Kalong, apakah satwa itu melambangkan sesuatu yang cerah, efektif, atau apalah yang pokoknya pas buat blau? Saya tak tahu. Sungguh.

Batman mungkin bisa menjawab. Dia, menurut kawan saya, adalah putra Pekalongan.

Kekejaman dalam Merek Dagang

4 November 2004 @ 21:14:35

korek api cap adu ayam

Saya tak ingat persis puisi Taufiq Ismail ketika memrotes adu tinju bayaran di ring. Kalau tak salah [mohon Anda koreksi] ada “nenekku berpesan, jangan sekali-kali kau mengadu binatang”.

Adu binatang memang memedihkan kita. Dari adu jangkrik, adu ikan, adu domba, sampai adu jago dan entah adu apa lagi. Makhluk-makhluk itu dilatih untuk saling menyakiti dengan akibat cacat bahkan mati.

Makhluk-makhluk itu bukan berkelahi di alam bebas karena naluri — dengan atau tanpa manusia penonton. Makhluk-makhluk itu didorong, dipaksa, untuk berkelahi, semata demi hiburan dan pertaruhan.

Saya tak menutup mata, bahwa pada masyarakat tertentu, adu jago adalah bagian dari tradisi — tentu dengan gerundelan: memangnya kalau sudah jadi tradisi berarti benar?

Saya tak habis pikir kenapa Jonkoping-Vulcan, produsen korek api tenar dari Swedia, negeri pecinta damai itu [tapi Olaf Palme, sang perdana menteri, dijemput ajal oleh letusan Smith & Wesson, di jalanan, sepulang dari bioskop bersama istri], menambahkan merek lokal di Indonesia berupa adu ayam.

Sesuatu yang hidup dalam masyarakat, memang menggoda untuk dipermerekkan. Tapi kenapa harus adu jago? Kenapa?

Raja Turki

21 October 2004 @ 20:04:33

Raja Turki ala Stamboelan

Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata “stamboel” berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah.

Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini.

“Stamboelan”, sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam — tepatnya raja sekian jam — karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling.

Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D

Emberrrrrrrrrr!

14 October 2004 @ 19:26:38

ember plastik cap pioneerSang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga ini berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?].

Plastik hadir menggantikan ember-ember seng tebal milik ibu saya, yang dalam keadaan kosong bisa mengundang jeritan kalau rim atau bibir alas si ember menjatuhi jari kaki saya karena si ember terguling dari tumpukan tengkurap.

Plastik: begitu ngepop, kaya warna, enteng, lunak, dan menyiratkan kesementaraan [padahal bahan ini susah diurai oleh alam].

Plastik adalah modernitas. Tapi lihatlah sosok wanita berpinggang ramping yang berkebaya merah, berkain biru. Barangkali itulah potret wanita Indonesia saat itu. Mulai mengancik ke alam modern, karena ingin serbapraktis, tapi masih dijerat oleh busana lama yang menahan langkah bergegas [adakah dia memakai kelom geulis kayu made in Jalan Cihampelas Bandung?].

NB: stiker label berbentuk apel itu, alangkah ngepopnya…

Wenter Wantek

12 October 2004 @ 20:29:01

raja wenter jambon, funky kan?selamanya tulen, sungguh hebat
Kata lama “wantek”, sebagai sesuatu yang teguh, tak mudah luntur, rupanya berasal dari dunia wenter.

Inilah masa lalu Indonesia ketika industri tekstil dan garmen belum maju, sehingga cara untuk memperkaya tampilan adalah dengan mewarnai pakaian sendiri.

Bisa baju, celana atau kaos baru yang diubah warnanya, bisa juga pakaian lama dicelup ulang supaya nggak kelihatan pudar.

Pilihan warnanya juga oke lho. Ada “jambon” (merah jambu), tapi tak mendekati pink-nya Barbie. Ada pula oranye tua.

Saya tak tahu, siapa pengguna warna-warni berani itu pada masa lalu. Masa sih pantalon dril putih dicelup jadi jambon atau oranye? Pangkeh bener!

Kini, pada abad ke-21, masihkah wenter dijual? Diskonan di Matahari dan Ramayana saja sudah murah, ngapain juga berepot diri dengan main celup. Repot? Baca aturan pakai dalam gambar! :)

wenter wantek

(Pindahan dari tempat lama)

« Prev

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)