Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: “membaharui warna pakaian”. Yang belum jelas adalah kenapa ada “mbangun-trisno” [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk “kuning podang”, selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!

 

kumbokarno pemutih pakaian

Kumbokarno [Kumbakarna] mungkin bisa jengkel oleh salah satu dari ini. Pertama: larangan penggunaan pemutih pada label baju. Kedua: dia tak merasa sebagai pemutih pakaian. Urusan Kumbokarno adalah loyalitas sebagai bentuk tahu diri terhadap junjungannya, yaitu Prabu Dasamuka, dan memilih ikut melawan Rama. Dia bukan Wibisono [Wibisana] yang bersetia dengan kritis: hanya tunduk sepanjang perilaku junjungannya memang layak. Jadi apa urusan Kumbokarno dengan cuci-mencuci? Mungkin keteguhannya untuk memutihkan tanpa pandang warna kain. Yang putih semakin putih. Yang berwarna akan memudar dan akhirnya memutih. Gitu ‘kali. Sori.

 

bihun beras asli

Kata “asli” biasanya cuma buat klaim, embel-embel, bahwa suatu produk itu memang original, atau genuine, atau berbahan natural. Tapi “asli” sebagai merek? Ya ini. Bihun beras ini.

Eh, emang ada bihun yang bukan dari beras? Gambarnya? Lihat sendiri. Sosok ala Jaja Miharja dengan kaos garis merah-putih ala [stereotipikal sekaligus kartunal] Madura, dengan gaya karikatural berupa jempol yang besarnya tiga perempat badan — mungkin model aslinya difoto dengan lensa yang lebarrrr banget.
Terbikin di Sukaharjo, Jawa Tengah. Di mana itu? Dekat Surakarta, atau Sala, atau Solo. Salah satu kecamatannya lebih terkenal, yaitu Kartasura [kebalikan Surakarta, seperti Kyoto dan Kyoto]. Yang penting nama produsennya bisa bikin karyawan berbusung dada kalau ditanya calon mertua, “Kerja di mana, Nak?”

Jawabannya coba Anda cari sendiri, tanpa menambahkan “perusahaan bihun”. Sungguh sebuah organisasi bisnis dengan etos yang jauh dari cengengesan.

NB: Produk sejenis, tapi bukan bihun, dari Sukoharjo adalah ini.

 

sabun colek jaipongGoyang. Gitek. Geyol. Itulah intisari jaipong. Apakah dapat diterapkan untuk mesin cuci?

Ah, drum mesin cuci cuma spinning biasa. Cepat tapi tak bergoyang, dan tetap di tempat. Makin tinggi putarannya maka kotak mesin cuci malah tenang.

Kalau Jaipong jadi merek krim deterjen, apa ada hubungannya dengan colek?

Ada. Krim deterjen juga disebut sebagai “sabun colek” — sungguh penamaan yang lucu tapi mengena.

Natana, sang penyumbang gambar label [lagi: terima kasih, Ana!], melaporkan begini…

“Rasanya aneh juga! Terlintas tanya di benak, apa hubungannya perempuan yang menari dengan sabun untuk nyuci baju atau nyuci piring itu? Atau barangkali karena sabun itu diproduksi di Bandung. Bandung identik dengan sunda. Sunda identik dengan tarian erotis, Jaipong. Ah, nggak tahu jelas. Tapi, yang kutahu, sih, sabun coleknya tidak semenarik bungkusnya. Baunya menyengat dan tidak enak, juga meninggalkan bau tak sedap di piring atawa wadah yang sudah dicuci. Nyucinya pun tidak nyaman. Tanganpun jadi panas. Aku menemukan sabun itu di rumah (di kampungku). Ibuku yang beli. Beliau bilang, harganya lebih murah dan bisa hemat dibandingkan sabun yang biasa kugunakan.”

Kampung yang dimaksud si mojang pemukim Bandung itu adalah Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

“…di kampungku, sabun ini banyak digemari, loh. Barangkali banyak yang terhipnotis oleh perempuan penari Jaipong itu, ya, hehehe”.