Kembali Bersinar, Tanyailah Batman

Ajaib! Yang namanya pemutih model lama ini ternyata masih ada. Lidah kampung bilang “blau” dan “blao”, begitu pula produsennya. Sesuai nama [mungkin dari pelafalan lokal terhadap bahasa Belanda], warnanya memang biru, berupa bongkahan untuk dilarutkan ke dalam air, lantas air kebiruan itu buat merendam pakaian putih yang sudah kekuningan.
Apakah nantinya kain itu akan kembali putih? Belum tentu. Kadang cuma jadi putih kebiruan, dan oleh penggemarnya itu sudah diyakini lebih bagus ketimbang mangkak atau putih kekuningan.
Apa boleh buat, ketika bleaching belum banyak dikenal, dan klorin yang kurang ramah lingkungan pun belum jadi kebutuhan, maka pembiruan kain sudah dianggap memadai. Biru yang menggenangi putih, mungkin, dianggap lebih tulus ketimbang putih yang memudar jadi kekuningan.
Pemblauan ini ditempuh setelah penglanthangan, yaitu menggelar jemuran putih di atas rumput atau perdu semalaman agar kain kembali menjadi putih bersinar, dianggap kurang efektif.
Lantas, kenapa mereknya Kalong, apakah satwa itu melambangkan sesuatu yang cerah, efektif, atau apalah yang pokoknya pas buat blau? Saya tak tahu. Sungguh.
Batman mungkin bisa menjawab. Dia, menurut kawan saya, adalah putra Pekalongan.


Sang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga ini berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?].

