DAMRI: Keren, Rp 8 per Kilometer

16 December 2006 @ 5:02:38

karcis damri

Ini kenangan lama, 20 tahun lalu, dari Dhany tentang bus DAMRI (Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia):

Bayangkan dari Aloha yang ada di ujung selatan luar kota surabaya s/d Tanjung Perak di pucuk utara pada tahun 1987/88 ongkosnya cuma 200 perak untuk sekali jalan jaraknya hampir 25 KM, karena saat itu jalan tol belum dibangun. Yang pasti waktu itu si mas DAMRI termasuk angkutan yang paling keren dan bukan angkutan asal sekali-sekali jalan.

Kenangan itu dia kirim via e-mail 23 Agustus lalu, lengkap dengan repro karcis Damri. Dia masih ingat, Damri selain menggunakan Mercedes juga pernah mengisi armadanya dengan bus Tata bikinan India dan “bus tumpuk” Amalgam dari Inggris.

DAMRI, kini Perum, merupakan bagian dari sejarah angkutan rakyat di Indonesia. Pemerintah, mungkin tahun 60-an, membentuk sebuah jawatan — bukan perusahaan — untuk melayani kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yang murah. Sama seperti Pemerintah DKI Jakarta Raya membentuk PPD.

Menurut info per 2002 di anak situs BUMN, DAMRI memiliki 67 cabang, tapi tak jelas di kota apa saja. Juga kurang jelas berapa kekuatan armadanya sekarang.

Tapi ngomong-omong soal bus kota, memang ada tiga macam. Pertama: jenis biasa, seperti umumnya bus. Kedua: double decker (bus susun, atau bus tumpuk menurut istilah Dhany). Ketiga: bus gandeng.

Untuk istilah “bus gandeng”, dulu — entah siapa, saya lupa — ada yang tak setuju. Yang betul itu “bus sambung”. Kalau bus gandeng bakal memenuhi jalan, katanya. Baiklah, anggap saja salah kaprah, seperti kita menyebut “truk gandeng”, bukan “bus sambung”.

Adapun tentang bus tumpuk, teman saya yang orang Madura punya lelucon. Katanya, serombongan orang Madura batal meneruskan perjalanan dengan double decker. Untunglah bus baru beranjak lima meter meninggalkan halte.

Rombongan itu sempat duduk di dek atas, kemudian turun. Alasannya, “Ada sopir saja bisa nabrak, apalagi ndak ada sopir.” Mati ketawa ala Madura.

Parkir Cepek Didi Kempot

17 January 2006 @ 13:06:17

karcis parkir becak stasiun tugu yogyaKarcis parkir ini saya comot pada 1996. Huruf “B” berarti untuk becak. Dalam tafsiran saya, becak dan andong itu “parkir”, kalau sepeda “nitip” [karena ada istilah lama "penitipan sepeda"].

Berbahan kertas HVS 60 gram, dengan cetakan yang sangat eksotis: handpress. Jejak tinta tak merata, tapi jejak tindihan huruf timah sangat jelas, apalagi kalau diraba.

Saat itu, sembilan tahun lampau, mini offset sudah menjadi barang murah, bahkan kalau dicetak offset dengan volume pesanan untuk stok karcis dua tahun mungkin malah lebih murah ongkosnya ketimbang cetak dengan tenaga tangan yang mengilap oleh peluh.

Tapi ahhh… barangkali itu memang maunya orang “setasiun” [lihat ejaan pada karcis]. Hehe, “setasiun”. Sungguh cara mengeja yang njawani. Makanya lagunya Didi Kempot itu berbunyi “ning se-ta-si-un mba-lap-an…”.

Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur umumnya akan melafalkannya sebagai “se-ta-sioon” atau “sta-sioon”. Tapi orang Banyumas dan Tegal akan melafalkannya sesuai huruf, dengan “u” yang penuh.

Berbunyi “o” maupun “u”, Rp 100 pada 1996 — ketika sedollar Amrik masih setara Rp 1.900 — itu bagi kita murah. Tapi tidak untuk Pak Andong dan Pak Becak. Buktinya biaya dibebankan pada penumpang. Kalau dibebankan pada kusir, mana pakai pakai hitungan jam seperti Secure Parking segala, alangkah beratnya.

Plombir atawa Pening: Masihkah Bikin Pusing?

14 January 2005 @ 13:14:34

pening atawa plombirOrang jawa bilang “pè-nêng”. Bahasa Indonesia menyebutnya plombir atau pening [ya, sama dengan pening sakit kepala itu]. Mungkin dari bahasa Belanda “penning” yang dieja seperti orang Jawa menyebutnya. Sejenis seal, begitulah.

Buat apa? Ya buat bukti bahwa si pembeli yang menempelkan barang itu di sepedanya [juga becak, gerobak dan dokar] sudah membayar pajak kendaraan untuk pemerintah kota atau kabupaten.

Dulu berupa gambar yang untuk menempelkannya harus direndam di air. Mereka yang sayang mengotori sepedanya dengan tempelan memilih memasukkan stiker utuh, yang belum terendam, ke dalam kap lampu sepeda.

Akhirnya bentuk pening berkembang, berupa stiker kertas bersablon tapi dicap nomor seri. Berapa harganya? Pada 1996 tak sampai Rp 5.000 lah.

Di mana belinya? Umumnya di jalan, saat ada razia yang dijaga oleh hansip membawa pentungan. Selain itu, dulu, langsung membeli di kantor pemda juga bisa.

Saya belum tahu, masih adakah dokumentasi neraca kas pemda yang mencantumkan berapa rupiah nilai pamasukan dari plombir ini, lantas berapa persennya dari pendapatan asli daerah.

Dulu waktu saya masih bocah, selain membeli pening sepeda di kantor walikota saya juga harus membeli pening untuk anjing saya. Tapi nyatanya tak ada penangkap anjing liar seperti yang beberapa kali diperankan oleh Donal Bebek.

Mungkin lantaran walikota saya, di kota kecil di kaki Gunung Merbabu itu [bukan Kudus, lho], itu tak bernama Cornelis Prul. Yang ada malah maling anjing. Salah satunya bernama Slamet Tenggik, dari kampung Kalicacing. Mungkin dia tetangganya Pak Pokijan.

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)