Jènipêr, bukan Jennifer

9 November 2007 @ 22:10:44

jeniper

jeniperDesain label sirop ini sudah modern. Nama yang dipakai pun “modern”, maaf maksud saya “kebarat-baratan”. Jeniper. Keren kan?

Produk ini bikinan CV Mustika Flamboyan, Kuningan, Jawa Barat. Saya belum tahu Jeniper itu nama siapa. Pemiliknya? Putrinya?

Tentang Jeniper ini, sebagian dari Anda pasti akan terjerembab ke olok-olok lama bahwa (sebagian) orang Sunda tak dapat melafalkan “F” (èf) dan “V” (vé). Maka ada`guyon lama, tentang niat mengoreksi huruf pertama Vespa: “Bukan ‘èp’ tapi ‘pé’.”

Betulkah pejorasi itu? Tak hanya sebagian orang Sunda. Sebagian orang Jawa dan sebagian orang Betawi juga kurang telaten melafalkan “F”, “V”, dan “X”. Malah penutur bahasa Indonesia pun kadang menuliskan “kompleks” sebagai “komplek”. Tapi “seks” dan “boks” tidak menjadi “sek” dan “bok”.

Kornet adalah Corned

29 March 2007 @ 14:17:03

kornet atawa corned beef

Tampaknya dari sinilah istilah “kornet” berasal: corned. Tepatnya corned beef. Maka ketika abad lalu muncul internet, kedai kaki lima di lingkungan pondokan mahasiswa pun bergaya, menyebut “Indomi-telur-kornet” sebagai “internet”. Ini karena semua orang paham apa itu “kornet”. Alangkah repotnya jika menyebut “corned beef“.

Adapun Pronas, itu produk lama. Sangat lama, sehingga memakai nama Indonesia untuk makanan kalengannya. Bahkan pada tahun 70-an, masih dengan logo lama, produk ini mengklaim singkatan mereknya sebagai “Produk Nasional”.

Sekarang Pronas masih bertahan, bersaing di rak toko dengan merek penyusul dan barang impor (misalnya Ma Ling, yang salah satu olahannya bukan beef melainkan pork). Tapi apa pun mereknya, semua orang menyebutnya “kornet”.

Ada suatu masa ketika makanan kalengan dianggap mewah dan modern, sehingga bingkisan hari raya selalu menyertakannya. Ada biskuit kalengan (misalnya Khong Guan), ada pula buah kalengan. Tapi saya lupa apakah sarden kalengan dan kornet kalengan termasuk dalam paket.

Djoko van Pondokgede

5 March 2007 @ 11:01:41

roti tawar djoko bakery pondokgede

Namanya kurang keren, apalagi jika sopir mobil boks berkaca yang menjadi penjajanya meneriakkan lewat pengeras suara begini, “Djoko! Djoko! Roti Djoko!”

Tapi mau menjajakan “Roti Djoko!” maupun “Djoko Bakery!”, penghuni perumahan cukup memanggilnya, “Djokooooooooooooo!”

Soal rasa jangan ditanya. Inilah roti paling enak di bilangan Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat. Pondokgede yang bercitra kampung itu. Harga sebungkus roti tawar andalannya sekarang Rp 6.000. Dulu, pada 1993, masih Rp 600. Lha iyalah, rupiah kan makin tak bermutu.

Roti tawar Djoko itu putih, empuk, dengan rasa susu yang kentara. Logonya sederhana, seperti kertas sigaret.

Saya tak tahu kenapa produsennya memilih merek Djoko padahal pesaingnya, yang silih berganti, menggunakan nama asing.

Sejak kapan Djoko ada, mungkin bloggers yang paham Pondokgede, misalnya Rane, Firman, atau Qper, bisa bercerita.

BTW, tempat yang jadi markas Djoko itu dulunya adalah lahan yang jadi riwayat Pondokgede. Di situlah dulu ada rumah tua, milik tuan kebun bernama Hooymans.

Pada zaman Belanda, daerah Pondokgede dan sekitarnya memang untuk perkebunan, termasuk kebun karet. Pada masa kemerdekaan, pada 1965 ada peristiwa di kebun karet Lubangbuaya, dekat Halim Perdanakusumah. Kedekatan dengan kebun, mungkin, menjadi alasan bagi Intirub (Inti Rubber) untuk bikin pabrik di kawasan Halim.

Penduduk sekitar menamai rumah besar itu “pondok gede”. Pada 1992 bangunan bersejarah itu diruntuhkan untuk proyek Pusat Koperasi Angkatan Udara dan investor. Adapun toko Djoko, setahu saya, dulunya hanya ada di sebelah timur pasar (Jalan Jatiwaringin).

roti tawar djoko bakery pondokgede

Tentang nama kompleks pertokoan Pondokgede itu sempat ada beberapa versi. Pernah dalam peta disebut Pondokgede Mall, tapi sebagian warga dan pebisnis Jabodetabek menyebutnya Pondokgede Plaza. Orang Pondokgede, terutama sopir angkot, cukup menyebutnya “Pondok”.

Adapun pengelola kompleks, bertahun-tahun mamasang tulisan “Pondok Gede Asri” — suatu hal yang jarang diucapkan oleh warga sekitar. Sekarang ganti nama lagi tapi saya lupa apa sebutannya.

Satu Jempol tak Cukup

1 March 2007 @ 16:34:48

silet cap 2 jempol

Silet ini sangat yakin bahwa ketajamannya memang kelas jempolan. Bahkan dua jempol!

Sungguh merek yang sangat percaya diri, memakai bahasa Indonesia, didistribusikan oleh PT Enseval Putra Megatrading. Dalam kemasan paket tak disebutkan siapa produsennya. Tapi dalam bungkus silet tertulis “Dibuat oleh: ASR Co., USA”.

silet cap 2 jempol
Silet 2 Jempol ini saya peroleh Desember 2006 di Pasar Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kios penjualnya ada di seberang kedai swike enak itu. Di pasar swalayan Jakarta, setahu saya, silet ajaib ini tidak tersedia.

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)