
Namanya kurang keren, apalagi jika sopir mobil boks berkaca yang menjadi penjajanya meneriakkan lewat pengeras suara begini, “Djoko! Djoko! Roti Djoko!”
Tapi mau menjajakan “Roti Djoko!” maupun “Djoko Bakery!”, penghuni perumahan cukup memanggilnya, “Djokooooooooooooo!”
Soal rasa jangan ditanya. Inilah roti paling enak di bilangan Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat. Pondokgede yang bercitra kampung itu. Harga sebungkus roti tawar andalannya sekarang Rp 6.000. Dulu, pada 1993, masih Rp 600. Lha iyalah, rupiah kan makin tak bermutu.
Roti tawar Djoko itu putih, empuk, dengan rasa susu yang kentara. Logonya sederhana, seperti kertas sigaret.
Saya tak tahu kenapa produsennya memilih merek Djoko padahal pesaingnya, yang silih berganti, menggunakan nama asing.
Sejak kapan Djoko ada, mungkin bloggers yang paham Pondokgede, misalnya Rane, Firman, atau Qper, bisa bercerita.
BTW, tempat yang jadi markas Djoko itu dulunya adalah lahan yang jadi riwayat Pondokgede. Di situlah dulu ada rumah tua, milik tuan kebun bernama Hooymans.
Pada zaman Belanda, daerah Pondokgede dan sekitarnya memang untuk perkebunan, termasuk kebun karet. Pada masa kemerdekaan, pada 1965 ada peristiwa di kebun karet Lubangbuaya, dekat Halim Perdanakusumah. Kedekatan dengan kebun, mungkin, menjadi alasan bagi Intirub (Inti Rubber) untuk bikin pabrik di kawasan Halim.
Penduduk sekitar menamai rumah besar itu “pondok gede”. Pada 1992 bangunan bersejarah itu diruntuhkan untuk proyek Pusat Koperasi Angkatan Udara dan investor. Adapun toko Djoko, setahu saya, dulunya hanya ada di sebelah timur pasar (Jalan Jatiwaringin).

Tentang nama kompleks pertokoan Pondokgede itu sempat ada beberapa versi. Pernah dalam peta disebut Pondokgede Mall, tapi sebagian warga dan pebisnis Jabodetabek menyebutnya Pondokgede Plaza. Orang Pondokgede, terutama sopir angkot, cukup menyebutnya “Pondok”.
Adapun pengelola kompleks, bertahun-tahun mamasang tulisan “Pondok Gede Asri” — suatu hal yang jarang diucapkan oleh warga sekitar. Sekarang ganti nama lagi tapi saya lupa apa sebutannya.