Akhirnya karcis kereta api — orang bilang: tiket — macam ini punah. Dicetak di atas karton hijau telur (tapi rentang warna bisa bervariasi) setebal dan seukuran kartu domino, dengan teknik letterpress, dan peneraan numeratornya tampaknya juga secara manual. Untuk jarak dekat, tiket sepur macam ini sudah digantikan kertas HVS bercetak offset dengan ukuran sekitar satu setengah dari model gaple.

Salah satu ciri letterpress yang kurang bagus adalah ketebalan tinta tak merata. Akibat penekanan yang kuat maka setiap cetakan meninggalkan jejak melesak ke dalam kertas. Ciri lain? Lubang di tengah kartu dan cowakan pada tepian sebagai tanda telah diperiksa oleh kondektur.

Sampai awal 2000-an, KRL Jabodetabek masih memakai karcis nyeni ini. Berbahagialah Anda yang masih menyimpannya.

UPDATE:
Bandingkan dengan edisi yang lebih tua, atas masukan dari @bunderanHI. Yang ini ditawarkan di eBay. © Hak cipta foto:  davo1662.

Tagged with:
 

Sudah lumrah jika di perumahan tak hanya beredar tukang tempel stiker sedot WC tetapi juga tukang sebar kartu promosi servis elektronik. Untuk promo montir alat listrik ini, umumnya berupa kartu, seukuran kartu pos,  berbahan karton tebal, dengan bonus benang tebal. Cara penyebarannya dengan mencantelkannya pada pintu halaman orang atau… dilemparkan (terutama kalau ada anjing). Mungkin si montir berharap konsumen juga akan mencantelkan kartu ini sehingga perlu dicontohi. Keunikan sebagian kartu promo reparasi elektronik adalah pada teknik cetak: menggunakan sablon. Padahal sablon manual lebih dari satu warna itu melelahkan, dan terpaksa menggunakan raster besar. :)

Tagged with:
 

Saya tak tahu sejak kapan teri  Kanayakan, Bandung, ini mengisi pasar. Desainnya labelnya modern sekaligus retro, menampilkan gaya ibu tahun 70-an. Seolah ini produk  dan merektua yang disukai para nyona rumah di kota. Tentang gaya nyonya Indonesia, kita pernah memilikinya dari ember plastik Pioneer. Ada nyonya berkain berkebaya di sana. Saya ingat, sampai tahun 70-an masih ada wanita pekerja dan nyonya yang kerap berkain kebaya, termasuk budhé saya dan ibu guru saya.

Wadah teri ini saya temukan di sebuah dapur, entah diisi apa, makanya itu tanggal kedaluwarsa sudah terlewat.

Tagged with:
 

Anda tahu burung nuri? Pernah melihatnya atau cuma dengar namanya? Untunglah sekarang ada internet. Tapi jika menyangkut merek, selalu saja muncul tebakan kenapa burung anu, atau binatang apalah, yang jadi merek dagang. Pasti ada sejarahnya. Sayang untuk kasus ini, kerupuk dari Manonjaya, Tasikmalaya, saya tidak tahu kisahnya.

Label ini saya minta dari warung rokok karena kesederhanaanya. Cuma difotokopi. Pembuatan desain sudah dilakukan di komputer, bukan manual seperti kerupuk Irma yang menonjolkan craftmanship :)

Dari mana datangnya label halal? Mmmm sebenarnya ini soal ketulusan dan keyakinan pembuat maupun pembeli. Maaf kalau saya salah. Setahu saya sih halal juga mencakup cara perolehan, penyembelihan, dan seterusnya.

Tagged with: