Indonesia: Sebuah Pencarian (dan Cita-cita)

13 September 2007 @ 16:48:18

kopin toraja arabika

Seperti apakah desain yang mengindonesia? Sebuah pemancing perdebatan penuh busa, sementara Indonesia dan keindonesiaan di setiap benak mungkin tak sama-dan -sebangun.

Kopi kalengan tak hanya mewah kemasannya (maklum untuk kelas premium), tapi desainnya menarik. Tampilan luar mengambil sentuhan ragam hias Toraja agar lebih meyakinkan konsumen tentang nikmatnya kopi toraja.

Bagaimana kemasan dalamnya, yaitu kantong kopi hampa udara? Seolah “kurang nyambung” dengan kemasan kaleng. Memang, pada kaleng sudah ada pengait visual berupa gambar lelaki tua Jawa. Tapi kemasan dalam yang bermotif kayu dengan gambar wong Jawa — lebih mengesankan java si kopi item? — itu seolah mengajak konsumen untuk melupakan kaleng.

Pada desain sebelumnya, JJ Royal Coffee lebih berhasil menampilkan “kopi Indonesia”. Bisa saja sih mengundang komentar itu mencitrakan kopi timor — atau malah kopi brazil?

Yah, Indonesia memang belum selesai. Indonesia, sebagai nasion, sebagai kebudayaan, sebagai ruang hidup bersama, bukanlah sesuatu yang tunggal warna maupun tunggal pikir.

Kembali ke desain ya. Sebagai upaya, ini patut dihargai. Sebagai kopi? Nikmat!

Batik, Suatu Keindonesiaan

13 September 2007 @ 16:32:48

batik kimia farma

Bisa saja ada pertanyaan: apakah Indonesia harus batik? Bakal panjang paparan maupun debatnya.

Dalam urusan fashion, kita kadangkala membutuhkan batik. Baik karena keinginan sendiri maupun karena tuntutan keadaan (dari dress code sampai kewajiban dinas).

Batik juga tak hanya sebagai baju. Batik muncul dalam taplak, serbet, sprei, sarung bantal. Apa lagi? Dalam sampul buku tulis tebal (kalau masih ada). Batik juga muncul dalam kemasan produk sendiri di jaringan apotek Kimia Farma, yang induknya pernah meraih Brand Visualization Award (2006).

Barang ini, bedak boorzinc, saya dapatkan Juli/Agustus 2007. Artinya itu barang masa kini. Tapi, sungguh, ketika melihatnya di rak kaca sewalayan apotek itu saya seperti terlempar ke masa silam. Ya bentuk silinder kardusnya, ya kertas bahannya, ya ragam hiasnya, ya teknik cetaknya.

Betulkah itu batik? Mungkin. Bukankah desain “batik modern” juga terus berkembang?

Putri: Ya Princess, Ya Anak Kita

13 September 2007 @ 16:15:21

makaroni cap dua putri

Makaroni? Itu salah satu sumbangan kuliner asing masakan Indonesia. Lha iyalah, Indonesia sendiri kan nama asing.

Lantas bagaimana mengindonesiakan sebuah produk? Tak perlu capai berlelah dalam pikir. Lakukan apa saja, pilih merek apa saja, pasti akan jadi salah satu wajah Indonesia. Bahkan misalnya pakai bahasa Inggris, tapi ada Cikonengnya dan Ciamisnya, bakal ketebak itu Endonesah.

Lalu kenapa pakai merek Dua Putri? Hanya produsennya yang dapat menjelaskan. Celakanya saya belum mengontak sang produsen.

Rsaa-rasanya, bagi saya, merek Dua Putri lebih enak ketimbang Dua Wanita, atau Dua Cewek, atau Dua Perempuan. Kalau Dua Ibu, malah bisa. Kenapa? Waduh, saya tak dapat menjelaskan. Cuma soal “rasa” saja.

Perihal “putri”, itu bisa berarti anak perempuan. Bisa juga berarti anak raja. Bisa juga anak kita.

Ketika “putri” berarti bangsawan/wati, atau wanita yang mewakili kalangan atas, maka sebagai produk dia mencitrakan sebuah cita rasa yang tinggi.

Ketika “putri” berarti anak perempuan, bahkan anak perempuannya sang produsen, maka dia menggambarkan kebanggan sang pemilik merek terhadap keluarganya. Sekalian ada sentuhan personal, begitulah. Lain halnya kalau memasang merek Dua Bidadari, sosok dari antah berantah itu.

Memasang dua putri, yang berkerudung, juga mencitrakan sesuatu yang, katakanlah, islami. Suatu hal, yang mungkin, diharapkan akan lebih menyentuh pasar.

Memang sih kerudung tak hanya atau tak mesti dipakai oleh muslimah. Bukankah suster atau biarawati juga berkerudung? Namun untuk kepentingan produk ini, nampaknya sentuhan islamilah yang diutamakan.

Selamat berpuasa dalam bulan Ramadan. Semoga terberkahi, dan hikmahnya Anda tebar untuk banyak orang.

Yang Penting Lancar Lagi Jaya

26 August 2007 @ 13:03:09

sothil cap lancar jaya

sothil lancar jaya

Ini barang biasa. Sekadar kitchen utensil. Harganya cuma Rp 5.000. Saya jumpai di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta, pekan lalu. Mereknya? Juga biasa. Cuma “Lancar Jaya” — nyaris generik.

Lantas di mana menariknya sothil berbahan kayu ini? Justru pada merek yang biasa saja, bersahaja, sehingga sering jadi ungkapan: lancar jaya.

“Lancar jaya” serupa dengan “maju jaya”, “makmur jaya”, “jaya abadi”, “terang jaya”, dan silakan Anda sebut yang sebangsanya. Nama-nama itu sering jadi pilihan nama toko, CV, dan usaha dagang.

Nama-nama yang tak menjanjikan kebaruan, tak menyugestikan terobosan inovatif, tapi bagi pemiliknya boleh jadi itu adalah pertaruhan nasib karena menyangkut kelangsungan usaha.

“Jaya”, itu sebuah cita-cita. Siapa juga yang mau si keok pecundang. Hanya dengan hasrat dan impian maka sebuah bisnis akan digeluti dengan sepenuh hati, bukan cuma iseng untuk buang duit sambil cengengesan.

“Lancar”, itu sebuah perjalanan tanpa hambatan sehingga tujuan akan lekas tercapai.

Hari gini masih ada orang berani pasang merek yang nyaris generik, sungguh menarik. Pilihan ekstrem sekarang adalah bikin merek usaha yang keren, kebarat-baratan, bisa juga berbau bahasa tinggi Indonesia (atau Sansekerta), dan di sisi lain adalah merek yang seadanya, sederhana, agak ndagel sekaligus meledek. Misalnya PT Jujurjaya, penerbit majalah gratisan Loud, milik Ridho Slank Hafidz.

Dunia merek kadangkala merupakan peta benak sebuah masyarakat.

Munyuk cap Tempo

30 July 2007 @ 19:03:46

buku notes cap kera

Buku tulis dan terutama notes cap Kera ini pernah menjadi bagian dari kehidupan tulis-menulis di Indonesia sampai awal 70-an. Sebagian orang Jawa menyebutnya “buku cap munyuk”.

Kualitas cetak sampul notes klasik ini sederhana tapi nyeni. Cukup menggunakan kertas manila dengan cetakan letterpress yang meninggalkan bekas tindasan, sudah begitu penintaannya tak rata pula.

Si kera yang terpelajar — bisa baca-tulis — ini seolah meninggalkan mayoritas warga Indonesia yang saat itu masih banyak yang buta huruf. Itulah masa ketika SD Inpres belum diperkenalkan.

Begitu kuatnya merek ini sehingga pada pertengahan 80-an, ketika notes ini mulai jarang di pasar, majalah Tempo membuat notes bergambar monyet untuk wartawannya.

Mungkin si desainer sampul notes, dan juga para wartawan Tempo angkatan lama — yang mengalami ngantor di Senen — ingin bernostalgia.

Kenapa namanya notes? Mungkin itulah pembakuan kata yang berasal dari lafal lokal untuk “notes“. Diejanya ya “no-tes”, sesuai tulisan.

buku notes munyuk cap tempo

« Prev - Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)