Kopi macam ini menarik karena mereknya adalah nama si toko. Soal jenis kopi, biasanya konsumen bebas memilih. Penamaan tokonya pun menarik: Ujung. Ini seperti Warung Pojok, Toko Pojok (di Salatiga ada), Toko Perempatan, dan lainnya. Tapi tentang toko ini dan kopinya, saya tak banyak tahu. Pasti Ina Purple dan Rara lebih tahu. Begitu pula terlebih Aan Mansyur. Yang jelas, kemasannya sederhana namun penuh kepercayaan diri: “kopi tulen”. :) Harapan saya sih dulu ketika Orde Baru masih berkuasa, aksra Cina pada bungkus kopi itu selalu ada. Maklum rezim satu itu aneh.

Tagged with:
 

Barangkali begitulah penulisan merek kecap Kebumen ini sebelum pemberlakuan ejaan yang disempurnakan pada 17 Agustus 1972: ketjap tjap Kentjana. Saya tak tahu di Kebumen ada berapa merek kecap, tetapi kenalan yang berasal dari sana selalu membanggakan kecap ini.

Desain kemasan ini menggunakan warna utama yang kuat, mirip gaya partai (eh, Partai Rastafarian?), dengan logotype Kentjana yang kuno dan memberi kesan buatan sendiri, bukan mengambil dari paket font. Tutup botolnya penuh percaya diri mengklaim “kecap enak”. Sederhana seperti umumnya kecap. Adapun kata Indonesia untuk mempertegas bahwa Kebumen, Jawa Tengah, ada di Indonesia. Memangnya di luar Indonesia ada Kebumen juga?

Maksud saya salah satu kecap kebanggaan wong Grobogan, Jawa Tengah, termasuk Yeni Setiawan. Kecap cap Udang ini sudah lama, karena hampir semua orang Grobogan yang berumur di atas 70 tahun mengenalnya, bahkan beberapa keluarga di Grobogan menjadikannya sebagai oleh-oleh. Tapi sejak kapan kecap bikinan Nyonya Oei Hok Hoo ini beredar, saya belum mendapatlan kabar. Juga belum mendapatkan kabar mengapa Grobogan yang tak berpantai memilih merek udang. Bisa saja udang yang dimaksud adalah udang sungai. :D

… dan lagi, dari Cikoneng, Ciamis, Jawa Barat. Rupanya kerupuk yang masuk Jakarta ada saja yang berasal dari sana. Misalnya Madani dan Dua Putri. Lho, Dua Putri lagi? Iya, mereknya sama. Tapi cetakan versi yang ini lebih kasar. Desainnya pun berbeda (karena isinya “kerupuk kerang”?), demikian pula nomor telepon produsennya. Jangan-jangan masih ada Dua Putri lainnya. Manakah yang asli, saya tidak tahu.

Lantas kerupuk apa yang mereka buat? Secara umum hampir sama, berbahan tepung, dengan warna kejinggaan. Namanya sih bisa “makaroni”, bisa “kerupuk kerang”, dan entah apa lagi. Soal rasa, hmmm… dengan harga eceran tertinggi Rp 500 per bungkus bisa Anda terka bagaimana reaksi lidah :D Harga itu tak naik sejak 2007.

Tagged with: