Telur ayam yang dijual per keranjang ini “dikemas oleh Putra Unggas”. Benar, karena yang memproduksi telur adalah para kokok-petok betina. Lantas siapa itu Nyi Iteung yang rambutnya dikepang dua, memakai kebaya, dan berkain batik? Rasanya makin jarang wanita muda di pedesaan berbusana seperti itu. Bahkan di lapangan makin banyak yang bercelana panjang. Yang eksotis, dalam gaya lama, hanya ada dalam gambar. Adapun “ayam kampung liar” itu entahlah. Untuk memperoleh telurnya, manusia harus bersaing dengan predator lain. Ah jadi ingat “susu kuda liar” — bagaimana cara memerahnya?

Oh ya, kalau “telur ayam (dari) kampung liar” itu maksudnya apa? :)

Tagged with: