Mestinya memang bukan. Meskipun bergambar sapi hitam-putih-merah nyatanya tak ada kata “cap sapi”, yang ada hanya “ketjap gurih”.  Ini kecap terbikin oleh keluarga Liem dari Yogyakarta. Saya tak tahu sejak kapan kecap ini ada, karena masih menggunakan ejaan lama “ketjap”, tapi pendaftarannya bertahun 1991 — mungkin daftar ulang?

Saya menemukan botol kecap bergambar sapi ini dari meja makanan dalam resepsi pernikahan Tikabanget, awal Mei ini, di Yogya. Para tetamu dipersilakan menambahkan kecap sendiri pada hidangan yang diambilnya. Si pemilik jasa boga lebih memilih kecap sapi. :)

Tagged with:
 

Merek kecap ini cap Bulan, terbikin oleh Usaha Jaya, Palembang. Baik merek maupun nama kumpeninya terkesan generik, tapi yang jelas “usaha jaya” mencerminkan sebuah tekad dan optimisme. Visioner, begitulah.

Lantas apanya lagi yang menarik? Umumnya perusahan kecap hanya membedakan warna untuk kecap asin dan kecap manis. Yang ini membedakannya dari sisi bentuk labelnya sekalian. Meskipun begitu saya tidak tahu ada berapa varian produk Usaha Jaya, karena untuk yang asin namanya “kecap atom asin”.

Apa? Atom? Ada suatu masa, tahun 50-an sampai 60-an ketika kata “atom” sangat popular. Ada kacang atom sampai mainan dan penggaris plastik yang disebut berbahan “atom”. Mungkin sama popularnya dengan kata “apollo” pada akhir 60-an sampai awal 70-an karena misi NASA ke bulan dengan sekian Apollo-nya.

Tagged with:
 

Ini kecap bikinan Malang, Jawa Timur. Saya tak tahu apa arti “Jatim 87″. Mungkin tahun? Tapi bila menilik desainnya tampaknya memang dari gaya awal 80-an, yang besar kemungkinan dikerjakan secara manual, dan Rapido (ini merek, maskud saya drafting pen sebangsa Rotring dan Staedler) menjadi alat wajib. Begitu pula Letraset (minimal Rugos). Penempatan huruf-huruf di atas garis tegak memberi kesan paste-up pakai lem. :)  Sayang reprografinya kurang bagus, mungkin film negatifnya pun sudah mengalami sekian versi. Tapi ah, itu tafsiran saya. Bisa jadi saya salah. :)

Tagged with:
 

Ini salah satu merek klasik kecap bikinan Semarang: Mirama. Desain etiketnya, maksud saya labelnya,  bersahaja tapi kuat. Hanya ada dua warna di atas putih kertas, yaitu hijau untuk logotype (tipografinya mungkin mengarang sendiri) dan cokelat muda yang menjadi latar berbatik. Begitu bersahajanya sehingga tanggal kadulawarsa cukup dicap pakai numerator, sedangkan bidang untuk tanggal produksi dan kode produksi dibiarkan kosong. Terkabar kecap ini sudah ada sejak awal 1930-an, jadi bisa saja desain yang ini adalah versi kesekian.

Tagged with: