Kopi macam ini menarik karena mereknya adalah nama si toko. Soal jenis kopi, biasanya konsumen bebas memilih. Penamaan tokonya pun menarik: Ujung. Ini seperti Warung Pojok, Toko Pojok (di Salatiga ada), Toko Perempatan, dan lainnya. Tapi tentang toko ini dan kopinya, saya tak banyak tahu. Pasti Ina Purple dan Rara lebih tahu. Begitu pula terlebih Aan Mansyur. Yang jelas, kemasannya sederhana namun penuh kepercayaan diri: “kopi tulen”. :) Harapan saya sih dulu ketika Orde Baru masih berkuasa, aksra Cina pada bungkus kopi itu selalu ada. Maklum rezim satu itu aneh.

Tagged with:
 

Hari ini akan diputuskan oleh Majelis Ulama Indonesia apakah kopi luwak itu halal atau haram. Saya bukan coffee connoiseur, sehingga apresiasi  saya belum sampai pada tingkat pencecepan seberapa nikmat kopi ini bila dibandingkan kopi arabica lain.

Di gerai Kopi Luwak, secangkir kopi yang konon berasal dari buangan lubang pantat luwak (Paradoxurus hermaphroditus) ini dihargai sekitar US$ 8. Kopi disajikan seperti upacara, dengan membuka kemasan secara saksama, lantas sisa potongan dibawa oleh pramusaji (“Untuk laporan ke kantor,” katanya), sampai akhirnya terhidang dalam cangkir khusus. Pagi ini, dalam talkshow di Radio Elshinta, seorang pendengar tak percaya kopi luwak itu tanpa campuran kopi biasa. Kira-kia dia mempersoalkan, “Berapa ekor luwak yang dibutuhkan untuk mendapatkan biji-biji kopi untuk diolah?”

© Foto nomor 3 oleh Kopi Luwak

Tagged with:
 

Begitu banyak merek jempol karena setiap produsen sangat percaya diri bahwa produknya memang jempolan. Nah, peracik kopi dan bandrek ini memilih nama yang sama dengan jempol: ibu jari. Setahu saya jarang yang memakai kata itu. Mungkin produsen lain khawatir jika Ibu Jari dikira nama juragannya.

bandrek ibu jari kopi bandrek ibu jari

Tagged with: