Anda tahu burung nuri? Pernah melihatnya atau cuma dengar namanya? Untunglah sekarang ada internet. Tapi jika menyangkut merek, selalu saja muncul tebakan kenapa burung anu, atau binatang apalah, yang jadi merek dagang. Pasti ada sejarahnya. Sayang untuk kasus ini, kerupuk dari Manonjaya, Tasikmalaya, saya tidak tahu kisahnya.

Label ini saya minta dari warung rokok karena kesederhanaanya. Cuma difotokopi. Pembuatan desain sudah dilakukan di komputer, bukan manual seperti kerupuk Irma yang menonjolkan craftmanship :)

Dari mana datangnya label halal? Mmmm sebenarnya ini soal ketulusan dan keyakinan pembuat maupun pembeli. Maaf kalau saya salah. Setahu saya sih halal juga mencakup cara perolehan, penyembelihan, dan seterusnya.

Tagged with:
 

Cuma kerupuk biasa, yang dibungkus plastik, isinya banyak (sepuluh?), tetapi diberi label. Ada sedia di beberapa warung dan pasar di Jakarta Selatan dan selatan Jakarta. Rasa udangnya? Bergantung pada kepekaan lidah konsumen. :))

Mereknya sungguh meneduhkan: Cinta Damai. Padahal kalau dimakan menimbulkan kegaduhan di rongga mulut. Saat ruangan sepi, kemriuk krupuk bisa terdengar oleh orang lain sejauh lima meter.

kerupuk kampung dari parung: Cinta Damai

Maka terbukti sudah bahwa yang riuh, dan kadang gaduh, tidak mesti dekat dengan kekacauan. Krupuk dan penggemar krupuk tetap cinta damai. Ketika harga-harga naik, sehingga harga kerupuk juga naik (tetapi ukurannya kadang terpaksa mengecil), penggemar kerupuk tak perlu demo sampai gerbang gedung DPR, tak perlu merapat ke pagar kantor presiden. Penggemar kerupuk suka mengeluh, tetapi ya itu tadi, tetap Cinta Damai.

Tagged with: